laporan lengkap praktek lapang
pengantar oseanografi
(Suhu, Salinitas, Kecerahan, Pasang
Surut, Arus,
Gelombang, Topografi dan Sedimen)
OLEH
ALWIN
I1A1 12 062
Di Ajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Kelulusan Pada
Mata Kuliah Pengantar Oseanografi
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKAN DAN ILMU KELAUTAN
KENDARI
HALAMAN PENGESAHAN
Judul : Laporan Praktek Lapang Pengantar Oseanografi
Laporan lengkap : Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan
Pada Mata Kuliah
Pengantar Oseanografi
Nama :
Alwin
Stambuk : IA1 12
062
Kelompok : III ( tiga )
Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan
Laporan
Lengkap ini
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh
:
Koordinator
Dosen Mata Kuliah Asisten
Pembimbing
AHMAD MUSTAFA, S.Pi., M.P. LM.FARITO
NIP.
19731106 200312 1 001 NIM.I1A113054
Kendari, ...... Mei
2015
Tanggal Pengesahan
RIWAYAT
HIDUP
|
kata penagtar
Puji dan syukur kita
panjatkan kehadirat allah SWT. karena berkat dan rahmat-Nya sehingga dapat
menyelesaikan laporan yang berjudul.
Laporan Lengkap Praktikum Pengantar Oseanografi, sesuai dengan
penuntut praktikum yang di berikan oleh dosen pembimbing dengan waktu yang sangat
singkat.
Dalam penyusunan laporan lengkap pratikum pengantar
oseanografi ini, pratikum menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan
kekeliruan dan masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan
yang dimiliki oleh karena itu, pratikum
mengharapkan kritikan dan saran dari
berbagai demi kearah perbaikan sangat pratikum harapkan guna peenyempurnan
laporan lengkap pratikium pengantar oseanografi.
Akhir kata, pratikum mengucapkan
terimakasih kepada pihak yang telah banyak memberikan bantuan kepada pratikum
dan semoga laporan lengkap partikum pengantar oseanografi ini dapat memberikan
manfaat baik untuk pratikum maupun kepada pembaca.
Wabilahi taufik walhidayah asalumu
alaikum warahmatulahi wabarakatu.
Kendari
1 Juni 2015
Penulis
DATAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUl................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................ ii
RIWAT HIDUP...................................................................................... iii
KATA PENGANTAR........................................................................... iv
DAFTAR ISI........................................................................................... v
DAFTAR TEBEL................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. vii
LAMPIRAN ........................................................................................... viii
1.
KONSEP DASAR
1.1.Suhu
,Salinitas dan kecerahan............................................. 1
1.1.1. Suhu ................................................................................... 1
1.1.2. Salinitas .............................................................................. 3
1.1.3. Kecerahan .......................................................................... 3
1.2.
Pasang
Surut....................................................................... 4
1.3.
Arus ................................................................................... 6
1.4.
Gelombang ......................................................................... 8
1.5.
Topografi
dan Sedimen...................................................... 10
II. TUJUAN........................................................................................... 14
III. METODE PRAKTEK
3.1. Waktu dan Tempat................................................................. 15
3.2. Alat dan Bahan...................................................................... 15
3.3. Hasil Pengamatan................................................................... 16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Pulau Bukori……..................................... 20
4.1.1. Hasil ................................................................................... 21
4.2. Pembahasan............................................................................ 21
........... 4.2.1.
Suhhu, Salinitas dan Kecerahan . ...................................... 21
4.2.2. Suhu.................................................................................... 21
4.2.3. Salinitas .............................................................................. 22
4.2.4. Kecerahan............................................................................ 23
4.2.5. Pasang Surut........................................................................ 24
4.2.6. Arus Laut............................................................................ 25
4.2.7. Gelombang.......................................................................... 26
4.2.8. Topografi dan Sedimen....................................................... 27
V.
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan ................................................................................ 29
5.2. Saran....................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1.
Alat dan
bahan................................................................................... 15
2.
Hasil
pengmtan.................................................................................. 21
DAFTAR GAMBAR
1.
Gambaran
umum pulau bukori........................................................... 20
I. 


KONSEP DASAR
A.
Konsep Dasar Oseanografi
Kata oseanografi
adalah kombinasi dari dua kata yunani: oceanus (samudera) dan graphos
(uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang
samudera (Supangat dan Susanna, 2008).
Oseanografi merupakan suatu ilmu yang
mempelajari lautan. Pada dasarnya ilmu ini bukanlah ilmu yang murni, akan
tetapi merupakan keterpaduan dari berbagai macam ilmu dasar. Ilmu-ilmu dasar
tersebut antara lain ialah ilmu tanah (geology) ,ilmu fisika (physics),
ilmu kimia (chemistry), ilmu hayat (biology), dan ilmu iklim (meteorology).
Namun ilmu oseanografi biasanya hanya di bagi menjadi empat cabang
ilmu saja (Hutabarat, 1985).
J.J. Bhatt, dari Rhode Island Junior
College (1978), membagi sejarah Oseanografi menjadi beberapa era, yaitu era
klasik, era sebelum Challenger,era Challenger, era setelah Challenger,
da era Glomar Challenger. Awal dari oseanografi tidak diketahui pasti,
karena memang manusia kuno tidak meninggalkan rekaman secara sistematik, baik
berupa jurnal ataupun buku harian perorangan.Para arkeolog mencatat orang-orang
Polinesia dan India pra sejarah melakukan perjalanan laut yang sulit dalam
jarak yang panjang.
Para ahli oseanografi mempelajari berbagai
topik,termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng
dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada
batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang
digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai
samudera dan memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi,
dan fisika.
Beberapa sumber
lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara
oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa
Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu)
yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi
adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika,
kimia, matematika, dan lain-lain ke dalam segala
aspek mengenai laut. Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences
yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di
dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara
umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu
utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut
seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut,
dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang
berkaitan dengan flora dan fauna atau biota
di laut (Ariffin, 2003).
1. Suhu, salinitas dan kecerahan
2. Suhu
B. SuhuSecara keseluruhan, sebagian besar air samudra itu dingin. Kurang dari 10% volume air laut di muka bumi suhunya lebih dari 100C dan lebih dari 75% suhunya di bawah 40C . alas an utama dari perbandingan ini adalah karena sinar matahari hanya mampu menembus laut sampai beberapa ratus meter saja. Sedangkan pengaruh penyinaran matahari musiman hanya mencapai kira – kira 100 m. akibatnya di samudra terdapat lapisan atas yang relative hangat dihubungkan dengan lapisan transisi mendadak ke air dingin yang merupakan kolom air samudra sisanya. Daerah (lapisan) dengan penurunan suhu cepat ke bawah ini disebut termoklin (Romimohtarto,2009).
Suhu merupakan
salah satu unsur iklim yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan organisme
di permukaan bumi. Setiap jenis organisme mempunyai kebutuhan suhu yang
berbeda-beda menurut jenis dan stadia kehidupannya. Batas kehidupan suhu
tersebut adalah dikenal dengan suhu
cardinal, yaitu kisaran suhu yang diperlukan oleh setiap jenis organisme
untuk mampu bertahan hidup (Ariffin, 2003).
Suhu di laut adalah
salah satu factor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena
suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme di lautan, karena suhu
mempengaruhi baik akivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari
organisme-organisme tersebut. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika banyak
dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat di dunia.
Sebagai contoh, binatang karang di mana
penyebarannyan sangat di batasi oleh perairan
yang hangat yang terdapat di daerah tropic dan subtropik (Hutabarat, 2008).
Stratifikasi
vertikal kolom air yang berdasarkan perbedaan panas (perbedaan suhu) pada
setiap kedalaman perairan dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
Epilimnion merupakan lapisan bagian atas
perairan. Lapisan ini bagian yang hangat kolom air, suhu relatif konstan
(perubahan suhu sangat kecil secara vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini
tercampur dengan baik karena pengaruh angin dan gelombang.
Metalimnion atau
yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan epilimnion. Perubahan
suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan ini. Setiap
penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar 10C. Hipolimnion,
terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin,
bercirikan adanya perbedaan suhu secara
vertikal relatif kecil. Sifat massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran
(mixing) dan memiliki kekentalan air (densitas) yang lebih besar. Pada umumnya di wilayah tropis
memiliki perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasarhanya sekitar 2-30C (abdulmunthalib,
2009).
C. Salinitas
Ciri paling khas
pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang asin. Ini
disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam –macam garam, yang paling
utama adalah garam natrium klorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur.
Garam dapur banyak diproduksi di Madura dan juga di daerah lainnya diperoleh
dengan menguapkan air laut hingga tersisa Kristal-kristal garamnya. Selain
garam klorida, di dalam air laut terdapat pula garam-garam magnesium, kalsium,
kalium dan sebagainya. Dalam literature oseanologi dikenal istilah salinitas
yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam yang terlarutdalam satuliter air,
biasanya dinyatakan dengan satuan %0 (Nontji, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
salinitas yaitu penguapan dan curah hujan. Makin besar tingkat penguapan air
laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang
rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
Makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut
itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun
salinitas akan tinggi (Annisa, 2008).
D. Kecerahan
Penyinaran cahaya
matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan makin tingginya kedalaman
lautan. Pada perairan yang dalam dan jernih proses fotosintesa hanya terdapat
sampai kedalaman sekitar 200 meter saja. Adanya bahan-bahan yang melayang –
layang dan tingginya nilai kekeruhan di perairan dekat pantai penetrasi cahaya
akan berkurang di tempat ini. Akibatnya penyebaran
tanaman hijau di sini hanya
dibatasi sampai pada kedalaman antara 15 dan 40
meter (Hutabarat, 2008).
Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya
untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu sebagai produsen primer di
perairannya.Alga memerlukan cahaya untuk proses fotosintesisnya oleh karena
penetrasi cahaya ke perairan merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan produktifitas
primer di perairan.Selanjutnya dikatakan bahwa komponen daya tembus sinar
matahari kedalam perairan sangat ditenukan oleh kandungan bahan organik dan
anorganik tersusun persis di dalam perairan, warna perairan, kepadatan plankton
dan detritus. Proses fotosintesis plankton umumnya mengikuti perubahan intensitas
sinar matahari.Kecerahan lebih
kecil dari 3 m adalah
tipe perairan eutrof
atau subur, 3-6 m adalah mesotrof (sedang) dan lebih
besar dari 6 m adalah tipe perairan ousotrof (kurang subur) (Amirullah, 1998).
a.p
b.
c.1.2 pasang surut
1.2. Pasang suru
1.2 pasang surut
1.2 pasang surut
1.2
Faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan dalam air laut antara lain lumpur dan mikroorganisme (fitoplankton), sehingga tingkat kecerahan suatu perairan sangat mempengaruhi intensitas cahaya yang terserap dalam kolom air di perairan tersebut (Sediandi, 2003).
Ppasang sut
asang Surut
E. Pasang surut
Pasut laut (ocean
tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik
yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan
matahari. Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya
menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily
tides) dan atmosfer (atmospheric tides). Istilah 'pasut laut' pada
modul ini akan dinyatakan dengan 'pasut' yang merupakan gerak naik dan turun
muka laut dengan periode rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.8 jam. Fenomena
lain yang berhubungan dengan pasut adalah arus pasut, yaitu gerak badan air
menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan surut (Poerbandono dan
Djunasjah, 2005).
Fenomena
pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan tinggi permukaan air laut pada kondisi
kedudukan-kedudukan tertentu dari bumi, bulan dan matahari. Saat spring, yaitu
saat kedudukan matahari segaris dengan sumbu burnt-bulan, maka terjadi pasang
maksimum pada titik di permukaan bumi yang berada di sumbu kedudukan relatif
bumi, bulan dan matahari (Gambar 7.2). Saat tersebut terjadi ketika bulan baru
dan bulan purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut dengan spring
tide atau pasut perbani (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Arus pasut mempunyai
sifat bergerak dengan arah yang saling bertolak belakang atau bi-directional.
Arah arus saat air meninggi biasanya bertolak belakang dengan arah arus
saat air merendah. Kecepatan arus pasut minimum atau efektif nol terjadi saat
air tinggi atau air rendah (slack waters). Pada saat-saat tersebut
terjadi perubahan arah arus pasut. Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada
saat-saat antara air tinggi dan air rendah. Dengan demikian, perioda kecepatan
arus pasut akan mengikuti perioda pasut yang membangkitkannya. pasang surut
merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap
kehidupan biota laut, khususnya diwilayah pantai. Proses terjadinya saat akan memendek secara perlahan-lahan
(paras air sedang naik), dan pada saat yang lain akan memanjang kembali. Tinggi rendahnya paras
laut ini diukur dari suatu paras panutan yang telah ditentukan sendiri, yang
dinamakan datum. Datum ini biasanya ditentukan pada tingkat air rendah pada
pasut bulan penuh atau purnama biasa. Jadi kalau air rendah yang terjadi pada
pasut purnama luar biasa maka paralaut akan terletak di bawah datum
(Romimahtarto, 2009).
Karena adanya gaya
tarik bulan yang kuat, maka bagian bumi yang terdekat ke bulan akan tertarik
membengkak hingga perairan samudra di situ akan naik dan menimbulkan pasang.
Pada saat yang sama, bagian bola bumi di baliknya akan mengalami keadaan serupa
atau pasang pula. Sementara itu pada sisi lainnya yang tegak lurus terhadap
poros bumi-bulan, air samudra akan bergerak ke samping hingga menyebabkan terjadinya
keadaan surut di situ (Nontji, 2007).
Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas
air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air. Sedangkan faktor
eksternal seperti gaya tarik matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan
dasar laut dan gaya coriolis, perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya
tektonik dan angin (Gross, 1990).
ArusF. Arus
Arus Laut
Arus laut adalah
gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Arus laut
terjadi dimana saja di laut. Pada hakekatnya, energi yang menggerakkan massa
air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan pemanasan matahari
terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi yang diterima
permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang
menjadi mekanisme untuk menye-imbangkan energi di seluruh muka bumi. Kedua
fenomena ini juga saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Angin merupakan
salah satu gaya utama yang menyebabkan timbulnya arus laut selain gaya yang
timbul akibat dari tidak samanya pemanasan dan pendinginan air laut.
Kecepatan arus dan
arah arus dapat diukur dengan menggunakan alat pengukur arus (current meter).
Alat elektronik tersebut berbenuk seperti roket atau torpedo yang pada bagian
belakang terdapat sayap dan baling–baling. Baling -baling akan berputar sesuai
dengan kecepatan arus yang akan diukur. Dari alat tersebut dihubungkan dengan
sebuah alat penunjuk arah dan kecepatan melalui sebuah kabel yang cukup panjang
(Wibisono, 2011).
Arus laut permukaan
merupakan pencerminan langsung dari pola angina yang
bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan ini digerakkan oleh angin. Air dilapisan bawahnya ikut terbawa,
karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang diakibatkan oleh
perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari arah angina
dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi dari arah arus
permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi
hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009).
sirkulasi dari arus
laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di permukaan laut (surface
circulation) dan sirkulasi di dalam laut (intermediate or deep circulation).
Arus pada sirkulasi di permukaan laut didominasi oleh arus yang ditimbulkan
oleh angin sedangkan sirkulasi di dalam laut didominasi oleh arus termohalin.
Arus termohalin timbul sebagai akibat adanya perbedaan densitas karena
berubahnya suhu dan salinitas massa air laut. Perlu diingat bahwa arus
termohalin dapat pula terjadi di permukaan laut demikian juga dengan arus yang
ditimbulkan oleh angin dapat terjadi hingga dasar laut. Sirkulasi yang
digerakan oleh angin terbatas pada gerakan horisontal dari lapisan atas air
laut. Berbeda dengan sirkulasi yang digerakan angin secara horisontal,
sirkulasi termohalin mempunyai komponen gerakan vertikal dan merupakan agen
dari pencampuran massa air di lapisan dalam (Nining, 2002). Selanjutnya Duxbury et al
(2002) menyatakan bahwa arus memainkan peranan penting dalam memodifikasi
cuaca dan iklim dunia. Arus
dipermukaan laut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: angin,bentuk
dasar perairan, letak geografi dan tekanan udara. (Hutabarat, 2001).Angin
adalah faktor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin
mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang
dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan
kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali (Samskerta et al., 2012).
gelomG. Gelombangbang
1.4
d.Gelombang
Angin yang bertiup
di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk gelombang
yang dihasilkan di sini cendrung tidak tertentu yang tergantung kepada
bermacam-macam sifat seperti tinggi, periode di daerah mana mereka dibentuk.
Mereka di sini dikenal sebagai sea.
Kenyataanya gelombang kebanyakan merambat pada jarak yang luas,
sehingga mereka bergerak makin jauh dari tempat asalnya dan tidak lagi
dipengaruhi langsung oleh angin, maka mereka akan berbentuk lebih teratur yang
mana bentuk ini gelombang dikenal sebagai swell.
Pembangkitan gelombang
oleh angin paling tidak dipengerahui oleh 3 faktor:
1.
Kekuatan
(kecepatan) angin. Umumnya makin kencang angin yang bertiup maka makin
besar gelombang yang terbentuk dan gelombang
ini mempunyai
kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang besar.
2. Durasi/lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang
gelombang seluruhnya cendrung untuk meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu
pada saat angin pembangkit gelombang mulai bergerak bertiup.
3. Jarak
tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch.
Fetch adalah daerah dimana kecepatan dan arah angin adalah
konstan. Panjang fetch membatasi waktu yang diperlukan 54 gelombang untuk
terbentuk karena pengaruh angin, jadi mempeganruhi waktu untuk mentransfer
energi angin ke gelombang. Fetch ini berpengaruh pada periode dan tinggi
gelombang yang dibangkitkan. Gelombang dengan periode panjang akan terjadi jika
fetch besar. Tabel 8.4 menyajikan beberapa data dimana terlihat bahwa fetch
dapat juga mempengaruhi tinggi gelombang
Gelombang sebagian
ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi
oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertiup di permukaan laut
mula – mula menimbulkan riak gelombang (ripples). Jika kemudian angin
berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut merata
kembali. Tetapi jika angin ini bertiup lama maka riak gelombang membesar terus
walaupun kemudian angin berhenti bertiup. Ombak yang sederhana dapat dilihat
sebagai alun (swell) yang terjadi pada keadaan laut tenang. Jika diperhatikan,
alun ini mempunyai puncak – puncak (crests) dan lembah-lembah (troughs).
Selagi gelombang berjalan bergerak di air, jarak anatara dua titik serupa yang
berurutan yakni antara satu puncak dan pucak berikutnya atau pada antara satu
lembah dan lembah berikutnya dinamakan panjang gelombang (Romimahtarto, 2009).
Gelombang selalu
menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti
-hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sma sekali
diam. Hembusan angin sepoi-sepoi dalam keadaan
sama sekali diam. Hembusan angin sepoi – sepoi pada cuaca yang tenang sekalipun
sudah cukup untuk dapat
menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam
keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang besar
yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat pada kapal atau daerah – daerah
pantai (Hutabarat, 2008).
Ukuran besar
kecilnya gelombang umumnya ditentukan berdasarkan tinggi gelombang. Tinggi
gelombang ini bisa hanya beberapa millimeter saja tetapi juga bisa sampai
puluhan meter. Apabila kita mengamati perambatan gelombang di laut, seolah-olah
tampak air laut itu bergerak maju beserta dengan gelombangnya. Tetapi kenyataan
sebernarnya tidaklah demikian. Pada perambatan gelombang yang bergerak maju
sebenarnya adalah bentuknya saja, partikel airnya sendiri hampir tidak bergerak
maju (Nontji, 2007).
topH. Topografi dan Sedimen
e.Topografi dan sedimen
Transpor sedimen di
laut dalam utamanya berasal dari Continental Shelf (perairan dangkal),
meskipun beberapa sedimen dapat diangkut jauh di oceanic ridge dan rise, dan
sedimen biogenik yang terakumulasi di dasar laut karena adanya “hujan” atau
reruntuhan sisa sisa organisme pelagik dari permukaan dan dekat permukaan
perairan. Sedimen halus (berukuran kecil) dapat bergerak ke perairan dalam
melintasi continental shelf sebagai “plume permukaan air tawar” atau
lapisan nepheloid dekat dasar (Boggs, 1987).
Proses yang
memungkinkan transpor sedimen ke laut dalam menjauhi continental shelf dapat
dikelompokkan kedalam 6 bagian yaitu :
1.
transpor sedimen tersuspensi oleh
aliran dekat permukaan dan oleh angin
2.
transpor lapisan nepheloid dekat dasar
3.
transpor oleh arus pasang surut
pada lembah lautan
4.
aliran gravity sedimen
5.
transpor oleh arus kontur
geostrophic, dan
6.
transpor oleh es. Sebagai
tambahan, sedimentasi di perairan dalam dapat juga terjadi oleh karena adanya
reruntuhan organisme pelagik yang telah mati dari dekat permukaan perairan,
adanya partikel hasil letusan gunung berapi yang jatuh ke laut.
Sedimen laut
berasal dari daratan dan hasil aktivitas
(proses ) bioligi, fisika dan kimia baik yang terjadi di daratan maupun di laut
itu sendiri, maupun ada masukan sedikit dari sumber vulkanogenik dan kosmik.
Sedimen laut terdiri atas materi-materi bebagai sumber. Faktor-faktor yang mempengaruhi tipe sedimen yang
terakumulasi antara lain adalah topograsi bawah laut dan pola iklim. Distibusi
laut saat ini merupakan refleksi laut dan pola iklim. Tipe sedimen dasar laut
berubah terhadap waktu karena perubahan cekungan laut, arus dan iklim. Urutan
dan karakteristik sedimen laut baik
struktur maupun tekstur yang tergambar dalam lapisan sedimen menujukan
perubahan yangterjadi di atasnya (
Rifardi et al, 1998).
Sedimen terutama
terdiri dari partikel partikel yang berasal dari hasil pembokaran batu batuan
dan potongan potongan kulit (shell) serta sisa rangka dari organisme laut, yang
di kelompokan berdasarkan sumber pembentukannya : (Hutabarat dan Evans, 1985).
1.
Sedimen Lithogeneous yaitu Jenis sedimen ini berasal dari sisa pengikisan batu batuan di darat.
Hal ini dapat terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim, seperti yang
disebabkan oleh karena adanya pemanasan dan pendinginan terhadap batu batuan yang
terjadi secara berulang ulang di padang pasir, oleh karena adanya embun embun
es di musim dingin, atau oleh karena adanya aksi kimia dari larutan bahan bahan
yang terdapat di dalam air hujan atau air tanah terhadap permukaan batu Partikel-partikel sedimen diangkut dari
daratan ke laut oleh sungai-sungai. Beberapa sungai di dunia yang mengalir di
daerah daratan yang begitu luas akan memindahkan sejumlkah besar sedimen ke
dalam laut. Begitu sedimen mencapai laut penyebarannya kemudian ditentukan
terutama oleh sifat-sifat fisik dari partikel-partikel itu sendiri, khususnya
oleh lamanya mereka tinggal melayang-layang (tersuspensi) di lapisan kolom air.
Partikel-partikel yang berukuran besar cendrung untuk lebih cepat tenggelam
(mengendap) dan menetap dibandingkan partikel yang berukuran kecil.
2.
Sedimen Biogeneous yaitu Sisa rangka dari organisme hidup juga akan membentuk endapan partikel
partikel yang halus yang dinamakan ooze
yang biasanya mengendap pada daerah daerah yang letaknya jauh
dari pantai. Terbagi dua tipe utama: calcareous dan siliceous ooze
yang mana tergantung pada jenis organisme dari mana mereka berasal dan jenis
bahan yang telah bergabung ke dalam kulit atau rangka organisme.
3.
Sedimen
Hydrogeneous yaitu Jenis partikel dari sedimen
golongan ini dibentuk sebagai hasil reaksi kimia dalam air laut. Sebagai contoh
manganese nodules (bungkahan bungkahan mangan). Jenis logam logam lain seperti
cooper (tembaga), cobalt dan nikel juga tergabung di dalamnya
4.
Sedimen Cosmogeneous dan Sedimen Volcagenic yaitu
Partikel partikel kecil yang berasal dari ruang
angkasa dan mengandung banyak unsur besi sehingga mempunyai respon magnetik
disebut sedimen cosmogeneous. Sedangkan sedimen volcagenik adalah material yang
dkeluarkan oleh gunung api (Hutabarat dan Evans,1985).
ii. TUJUAN
1.
Untuk
mengetahui fluktuasi suhu perairan, salinitas dan tingkat kecerahan di perairan
pantai pulau bukori serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
2.
Untuk
mengetahui tipe pasang surut dan beda pasut di perairan pantai bukori serata
faktor-faktor yang mempengaruhinya
3.
Untuk
mengetahui kecepatan dan arah arus di perairan pantai pulau bokori
faktor-faktor yang mempengaruhinya
4.
Untuk
mengetahui karaktekristik gelombang di perairan pantai pulau bokori
faktor-faktor yang mempengaruhinya
5.
Untuk
mengetahui bentuk topografi serta hubungannya dengan sedimen di perairan pantai
pulau bukori.

iii. METODE PRAKTEK
III.1. Waktu dan Tempat
3.1 Waktu dan Tempat
Praktek lapangan
pengantar oseanografi dilaksanakan pada hari sabtu, 16 mei 2015 pada pukul 10.00 WITA sampai pada hari minggu, 17 mei 2015 pada pukul 11.00 WITA di pulau Bokori, Desa Bajo Indah
Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Sedangkan praktek
laboratorium dilaksanakan pada hari juma’at, 29 Mei 2015 pada pukul, 02.00 hingga 17.00. WITA di
laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Halu Oleo, Kendari.
III.11. Alat dan Bahan
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan
praktikum lapang oseanografi serta
kegunanya.
|
NO.
|
Alat dan
Bahan
|
satuan
|
Kegunaanya
|
|
1.
|
Alat
|
|
|
|
|
-
Thermometer
|
0c
|
Untuk mengukur suhu
|
|
|
- Handrefraktometer
|
Ppt
|
Untuk mengukur salinitas
|
|
|
- Patok
berskala
|
Meter
|
Untuk mengukur kedalaman
|
|
|
- Secchi disc
|
Meter
|
Untuk mengukur kecerahan
|
|
|
-
Selang
|
Meter
|
Sebagai alat bantu dalam pengukuran gelombang dan
pasut air laut
|
|
|
- Stopwatch
|
Detik
|
Untuk mengukur waktu
|
|
|
- Layang arus
|
-
|
Untuk mengukur kecepatan arus
|
|
|
- Kompas
|
-
|
Untuk mengetahui arah angin
|
|
|
- Meteran jahit dan mteran rol
|
Meter
|
Untuk mengukur jarak dan kedalaman air laut
|
|
|
- Tali raffia
|
-
|
Sebagai alat pengikat bahan dan alat
|
|
|
- Pipa paralon
|
-
|
Alat bantu untuk mengambil sedimen (sampel)
|
Tabael lanjutan:
|
E.
|
Bahan
|
|
|
|
|
-
Aquades dan tisu
|
-
|
Untuk membersihkan hendrefraktormeter
|
|
|
-
Plastik sampel
|
-
|
Untuk menyimpan sedimen
|
|
|
-
pH indicator
|
|
Untuk untuk mengetahui asam dan basa
|
|
|
-
Alat tulis
|
-
|
Untuk menulis
|
|
|
-
Kertas label
|
-
|
Untuk menempel sedimen yang sudah di masukan
kedalam kertas sampel
|
III.III Prosedur pengamatan
Prosedur pengamatan pada praktikum
lapangan oseanografi ini adalah sebagai berikut:
a. Suhu
Adapun prosedur kerja pada pengukuran suhu
adalah sebagai berikut:
1.
Menyiapkan thermometer untuk
melakukan pengukuran suhu.
2.
Melakukan pengukuran suhu dengan
cara mencelupkan thermometer ke dalam perairan selama kurang lebih 1-3
menit, dilakukan 3 kali pengulangan.
3.
Mencatat hasil pengukuran pada
kertas yang telah disiapkan.
4.
Melakukan pengambilan sampel
dengan interval waktu 1 jam selama 24 jam.
b. Salinitas
Adapun prosedur
kerja pada pengukuran salinitas adalah sebagai berikut:
1.
Menyiapkan handrefraktormeter
untuk melakukan pengukuran salinitas.
2.
Meneteskan aquades 1 tetes pada
kaca handrefraktometer kemudian dibersikan dengan tisu, bertujuan untuk
menormalkan hendrafraktometer.
3.
Mengambil sampel air laut kemudian
meneteskan 1 tetes pada handrefraktometer.
4.
Mengamati dan mencatat hasil yang
ditampilkan pada handrefraktometer.
5.
Melakukan pengambilan sampel
dengan interval waktu 1 jam selama 24 jam.
c. Kecerahan
Adapun prosedur kerja pada pengukuran
kecerahan adalah sebagai berikut:
1.
Menyiapkan secchi dich untuk
melakukan pengukuran kecerahan.
2.
Menenggelamkan secchi disch ke dalam perairan sampai
warna pada secchi disc tidak kelihatan.
3.
Menarik perlahan-lahan hingga
warna pada secchi disch terlihat hitam putihnya.
4.
Menandai batas pada tali secchi
disch yang masuk di perairan , sebelum dan sesudah
terlihat warna secchii disch.
5.
Mengukur panjang tali secchi dicsh yang masuk kedalam
peraian.
6.
Mencatat hasil pengukuran.
d. Pasang Surut
Adapun prosedur kerja pada pengukuran
pasang surut adalah sebagai berikut:
1.
Menyiapkan patok berskala dan
selang untuk melakukan pengukuran pasang
surut.
2.
Menancapkan patok pada dasar
perairan.
3.
Mencatat perubahan tinggi pasang surut pada patok berskala dengan interval 1 jam selama
24 jam.
e. Arus Laut
Adapun prosedur kerja pada pengukuran arus
laut antara lain sebagai berikut:
1.
Menyiapka layangan arus dengan
panjang tali 10 meter untuk melakukan pengukuran arus laut.
2.
Meletakan layangan arus di atas
permukaan air bersamaan dengan hitungan stopwatch, serta mengaktifkan kompas.
3.
Mencatat waktu bila tali telah dalam keadaan renggang
sempurna.
4.
Kecepatan arus dihitung
dengan menggunakan rumus: v = S/t.
5.
Mencatat hasil pengamatan.
f. Gelombang Laut
Adapun prosedur kerja pada pengukuran
gelombang laut antara lain sebagai
berikut:
1.
Menyiapkan peralatan berupa patok
berskala, meter rool,stopwatch untuk
melakukan pengukuran panjang , tinngi, dan periode gelombang laut.
2.
Untuk mengukur panjang gelombang
gunakan patok untuk mengukur jarak antara dua puncak gelombang, yang berdekatan
kemudian mencatat hasilnya.
3.
Untuk mengukur tinggi gelombang,
menancapkan patok ke dasar perairan kemudian menghitung tinggi gelombang dengan
menandai pada patok jarak antara puncak dan lembah gelombang dn mencatat
hasilnya.
4.
Untuk mengukur periode gelombang,
seperti langkah (3) memulai hitungan stopwatch setelah mendapatkan puncak
gelombang berikutnya. Kemudian mencatat hasilnya.
h. Topografi dan Sedimen
Adapun
prosedur pengamatan untuk topografi yakni:
v Untuk topografi
1.
Menyiapkan peralatan
berupa patok berskala, rool meter.
2.
Menancapkan patok pada
ke dalaman 25 cm dan mengukur jaraknya dari garis
3.
pantai,lakukan sampai
kedalaman 150 cm
4.
Mengambil substrat
dengan kedalaman 50,100,dan 150 cm
5.
Mencatat hasil yang
diperoleh
v Untuk sedimen
Setelah
mengambil sampel, substrat dibawa ke laboratorium untuk mengamati teksturnya:
Adapun prosedur
pengamatan untuk sedimen yaitu:
1.
Menyiapkan substrat
yang telah di peroleh dari pantai bokori
2.
Menimbang berat
substrat untuk masing-masing substrat berdasarkan kedalaman
3.
Catat data yang
diperoleh
4.
Menyaring substrat
satu persatu kedalam saringan bertingkat (sieve shaker)
5.
Saring selama 5 menit
untuk masing-masing substrat yang diperoleh
berdasarkan kedalaman
6.
masukkan dalam kotak
yang telah disediakan sebelumnya sesuai dengan ukuran substrat yang di saring
7.
Timbang satu persatu
hasil saringan substrat tersebut
8.
Mencatat hasil yang
diperoleh

iv. hasil dan
pembahasan
IV.I. Gambaran Umum Lokasi
Hasil dan pembahasan
iv. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 GAMBARAN UMUM LOKASI
Pulau Bukori
terletak di Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Terletak di
garis 030 56’ LS 1220 39’ 50.
Perjalanan menuju
Pulau Bukori dari dermaga Bajo indah membutuhkan waktu tempuh 5-7 menit,
sebelumnya pulau bukori merupakan pemukiman warga desa bukori. Kondisi pulau
yang kecil, dataran rendah, tidak adanya sumber air tawar, dan tidak adanya
fasilitas kesehatan dan infrakstruktur lainnya, permukaan air laut yang semakin
tinggi dan resiko bencana yang membahayakan masyarakat Bukori. Hal ini,
mengakibatkan pemerintah mengefakuasi masyarak ke daerah yang lebih aman, dari
situlah sampai sekarang Pulau Bukori menjadi pulau tak berpenghenu dan hanya di
jadikan tempat rekreasi masyaraat setampat di waktu-waktu senggang serta dijadikan temapat
observasi mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
IV.II. Hasil pengamatan
Hasil
pengamatan pada praktikum lapang pengantar oseanografi yang dilakukan
di pulau bokori dapat
dilihat pada Tabel dibawah
ini.
1.
Suhu
Tabel 2. Hasil
Pengukuran Variasi Suhu di Perairan Pantai P.Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015
|
Jam (Wita )
|
Suhu (°C)
|
Jam ( Wita)
|
Suhu (°C)
|
|
10.00
|
30
|
22.00
|
30
|
|
11.00
|
31
|
23.00
|
30
|
|
12.00
|
31
|
24.00
|
30
|
|
13.00
|
32
|
01.00
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel
Lanjutan
|
|||
|
Jam ( Wita)
|
Suhu (°C)
|
Jam ( Wita)
|
Suhu (°C)
|
|
14.00
|
32,5
|
02.00
|
28
|
|
15.00
|
30
|
03.00
|
27
|
|
16.00
|
32
|
04.00
|
29
|
|
17.00
|
|
05.00
|
29
|
|
18.00
|
30
|
06.00
|
29
|
|
19.00
|
30
|
07.00
|
30
|
|
20.00
|
30
|
08.00
|
30
|
|
21.00
|
29
|
09.00
|
31
|
2.
Salinitas
Tabel 3.
Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai P. Bokori
|
Jam (Wita )
|
Salinitas ( %₀)
|
Jam (Wita )
|
Salinitas (%₀)
|
|
|
10.00
|
30
|
22.00
|
31
|
|
|
11.00
|
30
|
23.00
|
31
|
|
|
12.00
|
32
|
24.00
|
32
|
|
|
13.00
|
32
|
01.00
|
32
|
|
|
14.00
|
32
|
02.00
|
31
|
|
|
15.00
|
30
|
03.00
|
32
|
|
|
16.00
|
31
|
04.00
|
32
|
|
|
17.00
|
31
|
05.00
|
31
|
|
|
18.00
|
32
|
06.00
|
30
|
|
|
19.00
|
32
|
07.00
|
31
|
|
|
20.00
|
32
|
08.00
|
32
|
|
|
21.00
|
30
|
09.00
|
32
|
|
3.
Pasang Surut
Tabel 4. Hasil
Pengukuran Tinggi Permukaan Air di Perairan Pantai P. Bokori
|
Jam
(Wita )
|
Tinggi
(Cm)
|
Jam (
Wita )
|
Tinngi
( Cm)
|
|
|
10.00
|
219
|
22.00
|
150
|
|
|
11.00
|
215
|
23.00
|
197
|
|
|
12.00
|
191
|
24.00
|
206
|
|
|
13.00
|
191
|
01.00
|
220
|
|
|
14.00
|
160
|
02.00
|
256
|
|
|
15.00
|
116
|
03.00
|
120
|
|
|
16.00
|
83
|
04.00
|
125
|
|
|
17.00
|
62
|
05.00
|
126
|
|
|
18.00
|
61
|
06.00
|
130
|
|
|
19.00
|
72
|
07.00
|
117
|
|
|
Table lanjutan
|
||||
|
Jam
(Wita )
|
Tinggi
(Cm)
|
Jam (
Wita )
|
Tinngi
( Cm)
|
|
|
20.00
|
128
|
08.00
|
137
|
|
|
21.00
|
140
|
09.00
|
202
|
|
4. Sedimen
Tabel 5. Hasil Pengamatan Tekstur Sedimen Berdasarkan
Kedalaman di perairan pantai P.Bokori Jam 08.00 Tanggal 17 Mei 2015
|
Kelompok
|
Kedalam(cm)
|
|
Jenis Substrat
|
|
|
Kerikil ( %)
|
Kerikil kecil (%)
|
Pasir halus
|
||
|
1
|
50
|
4.2 %
|
19.8 %
|
71.0 %
|
|
100
|
3.3 %
|
18.9 %
|
76.8 %
|
|
|
II
|
50
|
6.1 %
|
28.5 %
|
65.4 %
|
|
100
|
2.9 %
|
22.9 %
|
74.2 %
|
|
|
III
|
50
|
-
|
-
|
-
|
|
100
|
-
|
-
|
-
|
|
|
IV
|
50
|
6.1 %
|
28.5 %
|
65.3 %
|
|
100
|
2 .9 %
|
22.9 %
|
74.2 %
|
|
|
V
|
50
|
7.7 %
|
13.7 %
|
78.7%
|
|
100
|
4.4 %
|
15.1 %
|
80.5 %
|
|
|
VI
|
50
|
7.7 %
|
13.6 %
|
78.7 %
|
|
100
|
4.8 %
|
15.3 %
|
80.3 %
|
|
|
VII
|
50
|
7.7 %
|
13.7 %
|
78.7 %
|
|
100
|
4.8 %
|
16.5 %
|
78.7 %
|
|
|
VIII
|
50
|
4.2 %
|
20.6 %
|
75.2 %
|
|
100
|
7.3 %
|
3.4 %
|
89.3 %
|
|
|
IX
|
50
|
7.7 %
|
13.7 %
|
78.7 %
|
|
100
|
4.8 %
|
16.5 %
|
78.7 %
|
|
5.
Arus
Tabel 6. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di
Perairan Pantai P.Bokori Pukul 14.00 Wita Tanggal 16 Mei 2015.
|
Stasiun
|
Kecepatan Arus (
m/det)
|
Arah Arus
|
Arah Angin
|
Dasar Perairan
|
|
I
|
0.057
|
Barat laut
|
Barat laut
|
Pasir, landai
|
|
II
|
0.18
|
-
|
-
|
Pasir, landai
|
|
III
|
0.16
|
-
|
-
|
Pasir, curam
|
|
IV
|
-
|
Barat timur
|
Barat
|
Pasir, curam
|
|
V
|
0.015
|
Timur
|
Selatan
|
Pasir, curam
|
|
VI
|
0.490
|
Barat laut
|
Barat
|
Pasir, landai
|
|
VII
|
0.021
|
Barat
|
Barat laut
|
Pasir, landai
|
|
Tabel lanjutan
|
||||
|
Stasiun
|
Kecepatan
Arus ( m/det)
|
Arah
Arus
|
Arah Angin
|
Dasar
Perairan
|
|
VIII
|
0.0211
|
Barat
|
Barat
|
Pasir, landai
|
|
IX
|
0.2
|
Barat
|
Barat
|
Pasir,l andai
|
Ket: Pukul
14.00 : air laut bergerak surut (arus surut)
Tabel 2. Hasil Pengukuran Kecepatan
dan Arah Arus di Perairan Pantai P.Bokori
Pukul 07.00 Wita Tanggal 17 Mei
2015.
|
Stasuin
|
Kecepatan Arus (m/det)
|
Arah Arus
|
Arah Angin
|
Dasar Perairan
|
|
I
|
0.032
|
Tenggara
|
-
|
Pasir, landai
|
|
II
|
0.167
|
-
|
-
|
Pasir, landai
|
|
III
|
0.118
|
-
|
-
|
Pasir, curam
|
|
IV
|
-
|
Selatan
|
Timur
|
Pasir, curam
|
|
V
|
1.793
|
Barat
|
Barat
|
Pasir, landai
|
|
VI
|
0.009
|
Timur laut
|
Timur
|
Pasir, landai
|
|
VII
|
0.0065
|
Timur
|
Timur laut
|
Pasir, landai
|
|
VIII
|
0.062
|
Timmur
|
Timur
|
Pasir, landai
|
|
IX
|
0.004
|
Selatan
|
Barat
|
Pasir, landai
|
Ket: Pukul
07.00 : air laut bergerak menuju pasang (arus pasang)
6.
Gelombang
Tabel 7. Hasil Pengukuran Panjang Tinggi dan Periode
Gelom bang di Perairan Pantai P.Bokori Pukul 08.00 Wita Tanggal 17 Mei 2015.
|
Stasiun
|
Niai
|
Arah
|
Dasar perairan
|
|||
|
Panjang (cm)
|
Tinggi (cm)
|
Periode (s)
|
Angin
|
Gelombang
|
|
|
|
I
|
89
|
6
|
-
|
-
|
-
|
Pasir, landai
|
|
II
|
83
|
7
|
1,9
|
Timur laut
|
Utara
|
Pasir, landai
|
|
III
|
1.1
|
4
|
-
|
-
|
-
|
Pasir, curam
|
|
IV
|
69.7
|
10.1
|
1
|
Timur laut
|
Utara
|
Pasir, curam
|
|
V
|
82.3
|
18.7
|
1.65`
|
Timur laut
|
Timur laut
|
Pasir, landai
|
|
VI
|
9.92
|
14
|
3.13
|
Timur laut
|
Timur laut
|
Pasir, landai
|
|
VII
|
52.13
|
3.7
|
1.1
|
Timur laut
|
Timur laut
|
Pasir, landai
|
|
VIII
|
11.09
|
28
|
6.05
|
Barat
|
Selatan
|
Pasir, landai
|
|
IX
|
6.025
|
15.25
|
2.04
|
Barat
|
selatan
|
Pasir, landai
|
7.
Topografi dan sedimen
Tabel 8. Hasil Pengukuran Jarak dari Garis Pantai
Berdasarkan Kedalaman di perairan pantai P.Bokori Jam 08.00 Tanggal 17 Mei 2015
|
Stasiun
|
Jarak Dari Garis
Pantai ( m) & Jenis Substrat Dasar Perairan
|
|||||||||||||||
|
Ked.25 cm
|
Ked. 50 cm
|
Ked. 75 cm
|
Ked.100 cm
|
Ked.125 cm
|
Ked.150 cm
|
|||||||||||
|
I
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
||||||||||
|
II
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
||||||||||
|
III
|
-
|
--
|
-
|
-
|
-
|
-
|
||||||||||
|
IV
|
3.44
|
10.91
|
14.90
|
17.88
|
32.86
|
50.00
|
||||||||||
|
V
|
1.45
|
1.9
|
3.37
|
5.07
|
9
|
38.37
|
||||||||||
|
Tabel
lanjutan
|
||||||||||||||||
|
Stasiun
|
Jarak
Dari Garis Pantai ( m) & Jenis Substrat Dasar Perairan
|
|||||||||||||||
|
Ked.25
cm
|
Ked.
50 cm
|
Ked.
75 cm
|
Ked.100
cm
|
Ked.125
cm
|
Ked.150
cm
|
|||||||||||
|
VI
|
2
|
6.036
|
|
12.10
|
|
20.16
|
30
|
41.056
|
||||||||
|
VII
|
1.85
|
3.83
|
5.80
|
8.20
|
22.30
|
94.98
|
||||||||||
|
VIII
|
1.55
|
3.15
|
5.10
|
6.65
|
15.85
|
53.85
|
||||||||||
|
IX
|
2.27
|
4.02
|
5.88
|
7.76
|
19.88
|
43.83
|
||||||||||
8.
pH
Tabel 9. Hasil
Pengukuran pH di Perairan Pantai P. Bokori
|
Stasiun
|
Jam (WITA)
|
Ph
|
|
I
|
22.00
|
7
|
|
II
|
18.00
|
7
|
|
III
|
17.00
|
7
|
|
IV
|
21.00
|
7
|
|
V
|
19.00
|
7
|
|
VI
|
18.00
|
7
|
|
VII
|
16.00
|
7
|
|
VIII
|
23.00
|
8
|
|
IX
|
19.00
|
8
|
IV.I. Pembahasan
IV.I.I. Suhu, Salitas dan kecerahan
4.2.1IV.1.I. Suhu
Kemampuan daratan
dalam menyimpan panas berbeda dengan air. Daratan akan lebih cepat bereaksi
untuk menjadi panas ketika menerima radiasi dari pada lautan.
Sebaliknya daratan
akan lebih cepat pula menjadi dingin dari pada lautan pada waktu tidak ada insolation. Akibatnya di daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar bila
dibandingkan dengan yang terjadi di lautan. Kisaran suhu di lautan: -1,87 0C s/d 42 0C. Sementara di
daratan: -68 0C s/d 58 0C (Hutabarat dan Evans, 1985).

Gambar 2. Hasil
Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai Pulau Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015
4.1.HASIL
Berdasarkan
Hasil pengukuran fariasi suhu di perairan pantai pulau Bokori di lakukan 2 kali pengukuran yaitu pada tanggal
16 dan
17 mei 20145 pada pukul 11.00 dan 12.00 di manah pengukuran suhu di
lakukan pada stasiun masing-masing. Pada tanggal 16 mei pukul 11.00 di peroleh suhu tertinggi pada stasiun I yaitu 300C dan salinitas tertinggih yaitu
di temukan pada stasiun II
. 32 Ppt,
sedangkan pengukuran yang di lakukan pada tanggal 17 mei pada pukul 05.00 di peroleh salinitas terendah pada stasiun III yaitu 300C dan Kecerahan terendahnya
terdapat pada stasiun I V.5,40. Hasil Pengukuran yang di lakukan pada tanggal 16 dan 17 ini mempunyai hasil
yang berbeda-beda hal ini di sebabkan karena pada saat pengukuran tiap-tiap
stasium melakukan pengukuran ditempat yng berbeda-beda dimana tekan dan suhu
akibat penyinaran matahari berbeda-beda.
IV.II.II. Salinitas
Air
laut merupakan perairan yang memiliki rasa asin di bandingkan dengan periran
yang lainnya, rasa asin pada air laut di
sebapkan beragamnya kandungan garam-garam terlarut seperti garam natrium klorida
(NaCl), selain itu,air laut merupakan perairan terbesar yang memisahkan benua
dan pulau yang ada di berbagai belahan dunia, hal ini menjadi sumber utama
adanya kandungan garam baik yang bersumber dari pelapukan yang bersumber dari
daratan, ataupun pelapukan yang bersumber dari organisme atau pun batuan yang
ada didasar perairan laut

Gambar 3.
Grafik fariasi salinitas di perairan pantai pulau Bukori selama 24 jam tanggal 16-17 Mei 2015.
Pengukuran
salinitas yang di lakukan pada perairan pulau Bukori selama 24 jam memperoleh kadar salinitas yang sangant baik untuk
ekosistem perairan yang berkisar antara 31 o/oo-32 o/oo.
Kadar slinitas yang baik
disepakan kurangnya pengaruh dari ekosistem daratan seperti aliran sungai,
semakin banyak sungai dan curah yang bermura ke laut maka semakin rendah
salinitas pada peraira. Tidak hanya itu, faktor cuaca yang mendukung pada saat
melakukan pengukuran mengkibatkan kadar salinitas yang di teliti sangat baik.
Kadar salinitas
suat perairan pesisisir dapat saja berubah sewaktu-waktu apabila kondisi
lingkungan pada wilaya perairan tersebut menbawa dampak bagi perairan tersebut,
perubahan cuaca seperti pada musim hujan, semakin besar curah hujan di suatu perairan
maka salinitas akan rendah begitupun sebaliknya.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan
(turbulensi) di lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen yang bergantung
intensitas pengadukan. Pada perairan
dangkal, lapisan lapisan yang di hasilkan akibat dari turbelensi hampir sama
dengan lapisan di dasar perairan.
IV.II.III. kecerahan
presentase
kecarahan pada lokasi pengukuran hampir mendekati 100%. Pada kedalam 8-10 M.
Pada kedalaman 50-100 M tingkat cerahan hanya 8,16 m. Hal ini di akibatkan pada suatu terdapat zat-zat atau molekul-molekul
serta kepadatan plankton, yang terlarut, tersuensi (mengendap), dan melayang-layang pada kolom air.
Kecerahan suatu
perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan
dan sampai kedalaman pada proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna.
Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggang seichi disk mencapai 20-40
dari permukaan ( Syukur, 2002 ).
4.3.pasang surut4444IV.II.IV. Pasang Surut
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah
rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi
terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan
luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain
itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu
perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan
sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan
(Wyrtki, 1961).
![]() |
Gambar 1. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas
di Perairan Pantai P.Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015.
Pasang surut yang
terjadi pada Pulau Bukori di mana usia bulan saat pengamatan 3-4 hari bulan
(tanggal 28-29 Rajap 1436 H) distasiun
maing-masing menghasilkan kebergaman. Hal ini diakibatkan perbedaan topogafi dasar laut seperti, panjang garis
pantai, kelandayan serta yang paling mendasar adalah aktifitas benda-benda luar
angkasa (matahari, bulan, bumi).
ArusIV.II.V. Arus
Arus di permukaan
laut sanggat di pengaruhi oleh angin. Terjadinya angin pada suatu perairan di
sebapkan karena adanya perbedaan tekanan udara yg merupakan hasil dari pengaruh
ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berbeda
di permukaan bumi, slain itu, saat angin berhembus di laut, energi
yang ditransfer dari angin ke batas permukaan, sebagian energi ini digunakan
dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan, yang memberikan pergerakan air
dari yang kecil kearah perambatan gelombang sehingga terbentuklah arus dilaut,
diman semaakin kuat anggin bertup semakin besar pula arus yang trjadi pada
perairan, begitupun sebaliknya.
4.4.
Pengukuran arus di
perairan pulau Bukori pada siang hari cukup beragam tiap stasiunnya selam 24
jam.ditemukan pada stasiun I 0,16
m/s,sedangkan pada stasiun II. 0,118 m/s. Pengukran yang di mulai pada siang hari tiap
stasiun memperoleh varian kecepatan arus yang berbeda-beda hal ini diakibatkan pengukuran arus laut di
lakukan pada wilayah pesisir yang memiliki topografi yang landai, dangkal,
tidak adanya penghalang saat angin bertiup sehingga mengghasilkan variasi
kecepatan yang beragam.
Dangkalnya
perairan saat melakukan pengukuran kecepatan arus menga
arus laut permukaan
merupakan pencerminan langsung dari pola angina yang bertiup pada waktu itu.
Air dilapisan
bawahnya ikut terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya
yang diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan
dari arah angina dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi
dari arah arus permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi
selatan terjadi hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009).
4.4
IV.II.VI. Gelombang
Pengukuran gelombang
di lakukan selama satu kali pada pukul 09.00 WITA. Gelombang yang terjadi
pada lokasi pengukuran yang di mulai pada pukul 19.00 WITA. Kondisi perairan saat itu mulai bergerak
surut sehingga periode gelombang bervariasi tiap-tiap satsiun. Pada stasiun III panjang gelombang 1,1 m, tinggi gelombang 4 cm dengan periode 4,5
menit, pada saat pengamatan
gelombang yang ditemukan adalah gelombang landai, hal ini
diakibantkan pengaruh angin yang cukup kencang saat melakukan pengukuran, bentuk topografi pantai
yang landai.
.
. gelomb
Angin yang bertiup di atas permukaan laut
merupakan pembangkit arus dan juga pembangkit utama gelombang. Ada dua istilah
untuk menggambarkan gelombang di laut yaitu "Sea wave" dan
"Swell". Sea wave merupakan gelombang laut yang masih berada
di dalam pengaruh angin dan bentuknya sangat tidak teratur sedangkan swell adalah
gelombang yang lebih panjang dari sea wave dan sudah keluar dari
pengaruh angin serta bentuknya sudahteratur. Swell dibentuk oleh
gelombang-gelombang frekuensi atau panjang gelombangnya hampir sama.
Sifat-sifat gelombang dipengaruhi oleh faktor angin dan sedikitnya ada
tiga faktor angin yang sangat berpengaruh yaitu :
1. Kecepatan angin. Umumnya makin kencang angin
yang bertiup, makin besar gelombang yang
terbentuk dan gelombang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang
gelombang yang besar.
2. Lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan
panjang gelombang seluruhnya cenderung untuk meningkat sesuai dengan lamanya
angin bertiup.
3. Jarak
tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch). Pentingnya
fetch dapat digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk
pada kolom air yang relatif kecil seperti danau di daratan dengan yang
terbentuk di lautan bebas. Gelombang yang terbentuk di danau dimana fetchnya
kecil biasanya mempunyai panjang gelombang hanya beberapa sentimeter,
sedangkan yang di lautan bebas dimana fetchnya lebih besar, sering
mempunyai panjang gelombang sampai beberapa ratus.
Gelombang
laut pada umumnya timbul oleh pengaruh angin, walaupun masih ada faktor-faktor
lain yang dapat menimbulkan gelombang di laut seperti aktifitas seismik di
dasar laut (gempa), letusan gunung api, gerakan kapal, gaya tarik benda angkasa
(bulan dan matahari) (NINING, 2002).
IV.II.VII. Topografi dan Sedimen4.5.
Pengukuran
topografi di mulai pada pukul 08.00 WITA berdasarkan stasiun yang berbeda-beda. pengukuran di mulai dari garis pantai sampai
dengan jarak 25 M, 50 M, 70 M, 100 M,
125 M,dan kedalaman 150 M. Dengan enam varian jarak pada lokasi pengukuran
memperoleh haisil kedalamandan jenis substrat yang berbeda-beda (lihat di
lampiran).
Dari hasil
pengukuran tersebut dapat di ketahui bentuk perairan pulau Bukori memiliki
bentuk topograi yang landai.
Topografi dan letak
geografis pantai juga berpengaruh terhadap besarnya ombak yang dapat berdampak
terhadap banyak atau tidaknya erosi dan pengikisan pantai, dan pada akhirnya
hasil dari pengikisan pada pantai juga akan berdampak balik terhadap kondisi
topografi pantai, sehingga pada dasarnya antara keadaan topografi, ombak
(gelombang), letak geografis saling berkaitan membentuk sebuah siklus yang
selalu berkelanjutan. (Scripto,2008).
Sedimentasi pada lokasi pengukuran berdasarkan hasil
pengambilan sampel dari tiga varian kedalam yang di lakukan saat penentuan
topografi perairan menghasilkan substrat yang berbeda-beda (lihat pada
lampiran).
Keberagaman sedimen yang di peroleh dari pengambilan sampel,
selain pengaruh lokasi yang berbeda-beda setiap stasiun, faktor lain seperti
tidak adanya aktifitas masyarakat di sekitaran lokasi, pengendapan dan
pelapuakn yang bersumber dari organisme bantuan dan dan sungai yang bermuara ke
laut.
Lokasi pengambilan sampel yang landai dan tidak adanya
muara, serta kurang bebetuan di sekitar garis pantai dan di dasar mengakibatkan
jenis sedimen yang di peroleh bedasarkan uji laboratorium menghasilkan tiga
varian substrat yaitu kerikil, kerikil kecil, dan pasir halus (data pada halam
sampul).

v. kesimpulan
5.1. Kesimpulan
Simpulan yang di
peroleh dari praktek lapang oseanografi, tanggal 3-4 Mei selam 24 jam di Pulau
Bokori yaitu :
1.
Berdasarkan praktikum oseanografi
tentang pengukuran parameter fisika dan parameter kimia. Pada parameter fisika
meliputi kecepatan arus, kecerahan dan sifat optis air, suhu, pasang surut, dan
gelombang. Sedangkan pada parameter kimia meliputi PH, salinitas yang telah
dilaksanakan, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
2.
Suhu air laut tidak mudah panas dan tidak mudah dingin. Pada kedalaman
tertentu suhu air bersifat homogen.
3.
Arus permukaan dipengaruhi oleh
angin. Semakin kencang angin maka arus semakin kuat, sedangkan arus di
kedalaman disebabkan perbedaan densitas.
4.
Tingkat kecerahan dipengaruhi
oleh: zat terlarut di air, endapan, kedalaman dasar laut dan mikroorganisme
yang hidup di lautan.
5.
Gelombang merupakan pergerakan
massa air secara horizontal di perairan yang disebabkan angin dan peristiwa
pasang surut.
6.
Pasang surut dipengaruhi oleh gaya
grafitasi benda langit, yang paling mempengaruhi adalah bulan kemudian
matahari.
7.
Derajat keasaman merupakan salah
satu parameter penentu produktivitas suatu perairan.
8.
Salinitas dapat berkurang
diakhibatkan oleh bercampurnya air tawar dan air laut dan melelehnya es dan
salju.
5.2.
SARAN
Dalam melakukan
pratikum yang akan datang sebaiknya dalam setiap pengukuran-pengukuran asisten
dosen yang bersangkutan harus ikut serta dalam pelaksanaan pratikum. Sebaiknya
Laboratorium menyediakan alat dan bahan yang cukup untuk digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Ariffin. 2003. Dasar klimatologi. Unit penerbitan fakultas pertanian universitas brawijaya; Malang.
Annisa. 2008. Annisa.blogspot.com/salinitas.
Boggs, s. 1987. Principles of sedimentology and stratigraphy. Merrill publishing. Company. Ohio, usa.
Hutabarat, s. Dan s.m, evans. 1985. Pengantar oseabografi. Universitas indonesia press., jakarta.
Duxbury, a; b. Alyn; c. Duxbury and k.a. Sverdrup 2002. Fundamentals of oceanography-4th ed, mcgraw-hill publishing, new york.
Hutabarat & evans.1985. Pengantar oseanografi. Penerbit universitas indonesia
(ui press) ; jakarta.
Kurniawan, roni., m. Najib habibie dan suratno. 2011. Variasi bulanan gelombang laut di indonesia. Jurnal meteorologi dan geofisika, vol.12, no.3. Desember 2011: 221-232. Jakarta.
Nining, s. N. 2002. Oseanografi fisis. Kumpulan transparansi kuliah oseanografi fisika, program studi oseanografi, ITB.
Nontji, anugerah.2007. Laut nusantara. Penerbit djambatan ; jakarta.
Poerbandono dan e. Djunasjah, 2005. Survei hidrografi. Pt. Refika aditama.
Bandung.Poerbandono (2003). Sediment transport measurements and modelling in the meldorf bight tidal channels, german 8orth sea coast. Dissertation. University of kiel, germany.
Romimohtarto, kasijan dan sri juwana. 2009. Biologi laut. Jakarta: djambatan.
Wibisono.2011. Pengantar ilmu kelautan . Penerbit universitas indonesia (uipress) jakarta.
Romimohtarto, kasijan. 2009. Biologi laut. Penerbit djambatan ; jakarta.
Poerbandono dan e. Djunasjah, 2005. Survei hidrografi. Pt. Refika aditama. Bandung.
Supangat,
A dan Susanna. 2008. Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya
Syukur,
A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk Uwai.
Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 51
hal. ( tidak di terbitkan).
Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan. Wyrtki, K. 1961.
Phyical Oceanography of the South East Asian Waters. NagaWardani,
Wahyu.2008.Oseanography.Program Geografi UNM.Malang



Tidak ada komentar:
Posting Komentar