Selasa, 14 Juni 2016



 

 


laporan lengkap praktek lapang

pengantar oseanografi

(Suhu, Salinitas, Kecerahan, Pasang Surut, Arus,
Gelombang, Topografi dan Sedimen)


OLEH   
ALWIN
I1A1 12 062






Di Ajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Kelulusan Pada
Mata Kuliah Pengantar Oseanografi


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKAN DAN ILMU KELAUTAN
UNUVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Judul                           :  Laporan Praktek Lapang Pengantar Oseanografi

Laporan lengkap         : Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Pada Mata Kuliah      Pengantar Oseanografi

Nama                           :  Alwin
Stambuk                      :  IA1 12 062
Kelompok                   :  III ( tiga )
Jurusan                        :   Manajemen Sumberdaya Perairan
                                   

Laporan Lengkap ini
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh :


Koordinator Dosen Mata Kuliah                                         Asisten Pembimbing




           
AHMAD MUSTAFA, S.Pi., M.P.                                  LM.FARITO
NIP. 19731106 200312 1 001                                            NIM.I1A113054




Kendari, ...... Mei 2015
Tanggal Pengesahan
RIWAYAT HIDUP
 
                                Alwin dilahirkan di Batutulis, 26 April 1994 dari                                      pasangan Bapak Laraja dan Ibu Wa Haniwa, penulis                                  merupakan anak ke dua dari dua bersaudara. Penulis                                  menyelesaikan pendidikan sekolah dasar  pada Tahun 2006 di SD Negeri  Longa Kec.Wangi-wangi Kab.Wakatobi,  Pada tahun  yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMPs Waopu Jengo. Wangi-Wangi dinyatakan lulus pada tahun 2009. selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di SMKs Unggulan Wakatobi Wangi-Wangi Kab.Wakatobi dan lulus pada tahun 2012. Di tahun yang sama penulis mendaftarkan diri di universitas halu oleo  melalui jalur SLMPTN. Dan di terima di Universitas Halu Oleo kendari pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Jurusan Perikanan. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.dan masih terdaftar sebagi mahasiswa di Universitas Halu Oleo Kendari.



 

 



kata penagtar

BISM-2 

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat allah SWT. karena berkat dan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan yang berjudul. Laporan Lengkap Praktikum Pengantar Oseanografi, sesuai dengan penuntut praktikum yang di berikan oleh dosen pembimbing dengan waktu yang sangat singkat.
Dalam penyusunan laporan lengkap pratikum pengantar oseanografi ini, pratikum menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekeliruan dan masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh karena itu,   pratikum mengharapkan  kritikan dan saran dari berbagai demi kearah perbaikan sangat pratikum harapkan guna peenyempurnan laporan lengkap pratikium pengantar oseanografi.
Akhir kata, pratikum mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah banyak memberikan bantuan kepada pratikum dan semoga laporan lengkap partikum pengantar oseanografi ini dapat memberikan manfaat baik untuk pratikum maupun kepada pembaca.
Wabilahi taufik walhidayah asalumu alaikum warahmatulahi wabarakatu.

Kendari 1 Juni 2015

                                                                                    Penulis            

DATAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUl................................................................................                i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................                ii
RIWAT HIDUP......................................................................................                iii
KATA PENGANTAR...........................................................................                iv
DAFTAR ISI...........................................................................................                v
DAFTAR TEBEL...................................................................................                vi
DAFTAR GAMBAR..............................................................................                vii
LAMPIRAN ...........................................................................................                viii
1.         KONSEP DASAR
1.1.Suhu ,Salinitas dan kecerahan.............................................                1
1.1.1.   Suhu ...................................................................................                1
1.1.2.   Salinitas ..............................................................................                3
1.1.3.   Kecerahan ..........................................................................                3
1.2.         Pasang Surut.......................................................................                4
1.3.         Arus ...................................................................................                6
1.4.         Gelombang .........................................................................                8
1.5.         Topografi dan Sedimen......................................................                10
II.   TUJUAN...........................................................................................                14
III.  METODE PRAKTEK
3.1. Waktu dan Tempat.................................................................                15
3.2. Alat dan Bahan......................................................................                15
3.3. Hasil Pengamatan...................................................................                16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Pulau Bukori…….....................................                20
4.1.1. Hasil ...................................................................................                21
4.2. Pembahasan............................................................................                21
........... 4.2.1. Suhhu, Salinitas dan Kecerahan  . ......................................                21
4.2.2. Suhu....................................................................................                21
4.2.3. Salinitas ..............................................................................                22
4.2.4. Kecerahan............................................................................                23
4.2.5. Pasang Surut........................................................................                24
4.2.6. Arus Laut............................................................................                25
4.2.7. Gelombang..........................................................................                26
4.2.8. Topografi dan Sedimen.......................................................                27
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan ................................................................................                29
5.2. Saran.......................................................................................                30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



































DAFTAR TABEL
1.         Alat dan bahan...................................................................................                15
2.         Hasil pengmtan..................................................................................                21






































DAFTAR GAMBAR
1.         Gambaran umum pulau bukori...........................................................                20

 

 

 

 

 

 

I.  KONSEP DASAR

A.    Konsep Dasar Oseanografi
Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani: oceanus (samudera) dan graphos (uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera (Supangat dan Susanna, 2008).
      Oseanografi merupakan suatu ilmu yang mempelajari lautan. Pada dasarnya ilmu ini bukanlah ilmu yang murni, akan tetapi merupakan keterpaduan dari berbagai macam ilmu dasar. Ilmu-ilmu dasar tersebut antara lain ialah ilmu tanah (geology) ,ilmu fisika (physics),  ilmu kimia (chemistry), ilmu hayat (biology), dan ilmu iklim (meteorology). Namun  ilmu oseanografi biasanya hanya di bagi menjadi  empat cabang ilmu saja (Hutabarat, 1985).
      J.J. Bhatt, dari Rhode Island Junior College (1978), membagi sejarah Oseanografi menjadi beberapa era, yaitu era klasik, era sebelum Challenger,era Challenger, era setelah Challenger, da era Glomar Challenger. Awal dari oseanografi tidak diketahui pasti, karena memang manusia kuno tidak meninggalkan rekaman secara sistematik, baik berupa jurnal ataupun buku harian perorangan.Para arkeolog mencatat orang-orang Polinesia dan India pra sejarah melakukan perjalanan laut yang sulit dalam jarak yang panjang.
      Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik,termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera dan memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi, dan fisika.
Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dan lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut. Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut (Ariffin, 2003).

1.     Suhu, salinitas dan kecerahan

2.      Suhu

B.     SuhuSecara keseluruhan, sebagian besar air samudra itu dingin. Kurang dari 10% volume air laut di muka bumi suhunya lebih dari 100C dan lebih dari 75% suhunya di bawah 40C . alas an utama dari perbandingan ini adalah karena sinar matahari hanya mampu menembus laut sampai beberapa ratus meter saja. Sedangkan pengaruh penyinaran matahari musiman hanya mencapai kira – kira 100 m. akibatnya di samudra terdapat lapisan atas yang relative hangat dihubungkan dengan lapisan transisi mendadak ke air dingin yang merupakan kolom air samudra sisanya. Daerah (lapisan) dengan penurunan suhu cepat ke bawah ini disebut termoklin (Romimohtarto,2009).

Suhu merupakan salah satu unsur iklim yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan organisme di permukaan bumi. Setiap jenis organisme mempunyai kebutuhan suhu yang berbeda-beda menurut jenis dan stadia kehidupannya. Batas kehidupan suhu tersebut adalah dikenal dengan suhu cardinal, yaitu kisaran suhu yang diperlukan oleh setiap jenis organisme untuk mampu bertahan hidup (Ariffin, 2003).
Suhu di laut adalah salah satu factor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik akivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat di dunia. Sebagai contoh, binatang karang di mana
penyebarannyan sangat di batasi oleh perairan yang hangat yang terdapat di daerah tropic dan subtropik (Hutabarat, 2008).
Stratifikasi vertikal kolom air yang berdasarkan perbedaan panas (perbedaan suhu) pada setiap kedalaman perairan dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
Epilimnion merupakan lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini bagian yang hangat kolom air, suhu relatif konstan (perubahan suhu sangat kecil secara vertikal). Seluruh massa air di lapisan ini tercampur dengan baik karena pengaruh angin dan gelombang.
Metalimnion atau yang sering disebut Termoklin, terletak di bawah lapisan epilimnion. Perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar pada lapisan ini. Setiap penambahan kedalaman satu meter terjadi penurunan suhu air sekitar 10C. Hipolimnion, terletak di bawah lapisan termoklin. Lapisan ini lebih dingin,
bercirikan adanya perbedaan suhu secara vertikal relatif kecil. Sifat massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran (mixing) dan memiliki kekentalan air (densitas) yang  lebih  besar. Pada umumnya di wilayah  tropis memiliki perbedaan suhu air permukaan dengan bagian dasarhanya sekitar 2-30C (abdulmunthalib, 2009).
C.  Salinitas
Ciri paling khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam –macam garam, yang paling utama adalah garam natrium klorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Garam dapur banyak diproduksi di Madura dan juga di daerah lainnya diperoleh dengan menguapkan air laut hingga tersisa Kristal-kristal garamnya. Selain garam klorida, di dalam air laut terdapat pula garam-garam magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya. Dalam literature oseanologi dikenal istilah salinitas yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam yang terlarutdalam satuliter air, biasanya dinyatakan dengan satuan %0 (Nontji, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas yaitu penguapan dan curah hujan. Makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya. Makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi (Annisa, 2008).

D.  Kecerahan

Penyinaran cahaya matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan makin tingginya kedalaman lautan. Pada perairan yang dalam dan jernih proses fotosintesa hanya terdapat sampai kedalaman sekitar 200 meter saja. Adanya bahan-bahan yang melayang – layang dan tingginya nilai kekeruhan di perairan dekat pantai penetrasi cahaya akan berkurang di tempat ini. Akibatnya penyebaran
tanaman hijau di sini hanya dibatasi sampai pada kedalaman antara 15 dan 40
meter (Hutabarat, 2008).
Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu sebagai produsen primer di perairannya.Alga memerlukan cahaya untuk proses fotosintesisnya oleh karena penetrasi cahaya ke perairan merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan produktifitas primer di perairan.Selanjutnya dikatakan bahwa komponen daya tembus sinar matahari kedalam perairan sangat ditenukan oleh kandungan bahan organik dan anorganik tersusun persis di dalam perairan, warna perairan, kepadatan plankton dan detritus. Proses fotosintesis plankton umumnya mengikuti perubahan intensitas sinar matahari.Kecerahan  lebih kecil  dari 3 m  adalah  tipe  perairan  eutrof   atau  subur,  3-6 m adalah mesotrof (sedang) dan lebih besar dari 6 m adalah tipe perairan ousotrof (kurang subur) (Amirullah, 1998).

a.p

b. 

c.1.2 pasang surut

1.2. Pasang suru

1.2 pasang surut

 

1.2 pasang surut

1.2

Faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan dalam air laut antara lain lumpur dan mikroorganisme (fitoplankton), sehingga tingkat kecerahan suatu perairan sangat mempengaruhi intensitas cahaya yang terserap dalam kolom air di perairan tersebut (Sediandi, 2003).

Ppasang sut

asang Surut

E. Pasang surut
Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily tides) dan atmosfer (atmospheric tides). Istilah 'pasut laut' pada modul ini akan dinyatakan dengan 'pasut' yang merupakan gerak naik dan turun muka laut dengan periode rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.8 jam. Fenomena lain yang berhubungan dengan pasut adalah arus pasut, yaitu gerak badan air menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan surut (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Fenomena pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan tinggi permukaan air laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu dari bumi, bulan dan matahari. Saat spring, yaitu saat kedudukan matahari segaris dengan sumbu burnt-bulan, maka terjadi pasang maksimum pada titik di permukaan bumi yang berada di sumbu kedudukan relatif bumi, bulan dan matahari (Gambar 7.2). Saat tersebut terjadi ketika bulan baru dan bulan purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut dengan spring tide atau pasut perbani (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Arus pasut mempunyai sifat bergerak dengan arah yang saling bertolak belakang atau bi-directional. Arah arus saat air meninggi biasanya bertolak belakang dengan arah arus saat air merendah. Kecepatan arus pasut minimum atau efektif nol terjadi saat air tinggi atau air rendah (slack waters). Pada saat-saat tersebut terjadi perubahan arah arus pasut.      Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat-saat antara air tinggi dan air rendah. Dengan demikian, perioda kecepatan arus pasut akan mengikuti perioda pasut yang membangkitkannya. pasang surut merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan biota laut, khususnya diwilayah pantai. Proses terjadinya saat akan memendek secara perlahan-lahan (paras air sedang naik), dan pada saat yang lain akan memanjang kembali. Tinggi rendahnya paras laut ini diukur dari suatu paras panutan yang telah ditentukan sendiri, yang dinamakan datum. Datum ini biasanya ditentukan pada tingkat air rendah pada pasut bulan penuh atau purnama biasa. Jadi kalau air rendah yang terjadi pada pasut purnama luar biasa maka paralaut akan terletak di bawah datum (Romimahtarto, 2009).
Karena adanya gaya tarik bulan yang kuat, maka bagian bumi yang terdekat ke bulan akan tertarik membengkak hingga perairan samudra di situ akan naik dan menimbulkan pasang. Pada saat yang sama, bagian bola bumi di baliknya akan mengalami keadaan serupa atau pasang pula. Sementara itu pada sisi lainnya yang tegak lurus terhadap poros bumi-bulan, air samudra akan bergerak ke samping hingga menyebabkan terjadinya keadaan surut di situ (Nontji, 2007).
Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.  Faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air. Sedangkan faktor eksternal seperti gaya tarik matahari dan bulan yang dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolis, perbedaan tekanan udara, gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin (Gross, 1990).

ArusF.  Arus


Arus Laut

Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Arus laut terjadi dimana saja di laut. Pada hakekatnya, energi yang menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan pemanasan matahari terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk menye-imbangkan energi di seluruh muka bumi. Kedua fenomena ini juga saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Angin merupakan salah satu gaya utama yang menyebabkan timbulnya arus laut selain gaya yang timbul akibat dari tidak samanya pemanasan dan pendinginan air laut.
Kecepatan arus dan arah arus dapat diukur dengan menggunakan alat pengukur arus (current meter). Alat elektronik tersebut berbenuk seperti roket atau torpedo yang pada bagian belakang terdapat sayap dan baling–baling. Baling -baling akan berputar sesuai dengan kecepatan arus yang akan diukur. Dari alat tersebut dihubungkan dengan sebuah alat penunjuk arah dan kecepatan melalui sebuah kabel yang cukup panjang (Wibisono, 2011).
Arus laut permukaan merupakan pencerminan langsung dari pola angina yang bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan ini digerakkan oleh angin. Air dilapisan bawahnya ikut terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari arah angina dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi dari arah arus permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009).
sirkulasi dari arus laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di permukaan laut (surface circulation) dan sirkulasi di dalam laut (intermediate or deep circulation). Arus pada sirkulasi di permukaan laut didominasi oleh arus yang ditimbulkan oleh angin sedangkan sirkulasi di dalam laut didominasi oleh arus termohalin. Arus termohalin timbul sebagai akibat adanya perbedaan densitas karena berubahnya suhu dan salinitas massa air laut. Perlu diingat bahwa arus termohalin dapat pula terjadi di permukaan laut demikian juga dengan arus yang ditimbulkan oleh angin dapat terjadi hingga dasar laut. Sirkulasi yang digerakan oleh angin terbatas pada gerakan horisontal dari lapisan atas air laut. Berbeda dengan sirkulasi yang digerakan angin secara horisontal, sirkulasi termohalin mempunyai komponen gerakan vertikal dan merupakan agen dari pencampuran massa air di lapisan dalam (Nining, 2002). Selanjutnya Duxbury et al (2002) menyatakan bahwa arus memainkan peranan penting dalam memodifikasi cuaca dan iklim dunia. Arus dipermukaan laut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: angin,bentuk dasar perairan, letak geografi dan tekanan udara. (Hutabarat, 2001).Angin adalah faktor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memiliki perubahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hingga tidak berpengaruh sama sekali (Samskerta et al., 2012).

gelomG.  Gelombangbang

 


1.4

d.Gelombang

Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan di sini cendrung tidak tertentu yang tergantung kepada bermacam-macam sifat seperti tinggi, periode di daerah mana mereka dibentuk. Mereka di sini dikenal sebagai sea. Kenyataanya gelombang kebanyakan merambat pada jarak yang luas, sehingga mereka bergerak makin jauh dari tempat asalnya dan tidak lagi dipengaruhi langsung oleh angin, maka mereka akan berbentuk lebih teratur yang mana bentuk ini gelombang dikenal sebagai swell.
Pembangkitan gelombang oleh angin paling tidak dipengerahui oleh 3 faktor:
1.                   Kekuatan (kecepatan) angin. Umumnya makin kencang angin yang bertiup maka makin besar gelombang yang terbentuk dan gelombang
ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang besar.
2.         Durasi/lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya cendrung untuk meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu pada saat angin pembangkit gelombang mulai bergerak bertiup.
3.          Jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch. Fetch adalah daerah dimana kecepatan dan arah angin adalah konstan. Panjang fetch membatasi waktu yang diperlukan 54 gelombang untuk terbentuk karena pengaruh angin, jadi mempeganruhi waktu untuk mentransfer energi angin ke gelombang. Fetch ini berpengaruh pada periode dan tinggi gelombang yang dibangkitkan. Gelombang dengan periode panjang akan terjadi jika fetch besar. Tabel 8.4 menyajikan beberapa data dimana terlihat bahwa fetch dapat juga mempengaruhi tinggi gelombang
Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin di atas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertiup di permukaan laut mula – mula menimbulkan riak gelombang (ripples). Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut merata kembali. Tetapi jika angin ini bertiup lama maka riak gelombang membesar terus walaupun kemudian angin berhenti bertiup. Ombak yang sederhana dapat dilihat sebagai alun (swell) yang terjadi pada keadaan laut tenang. Jika diperhatikan, alun ini mempunyai puncak – puncak (crests) dan lembah-lembah (troughs). Selagi gelombang berjalan bergerak di air, jarak anatara dua titik serupa yang berurutan yakni antara satu puncak dan pucak berikutnya atau pada antara satu lembah dan lembah berikutnya dinamakan panjang gelombang (Romimahtarto, 2009).
Gelombang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti -hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sma sekali
diam. Hembusan angin sepoi-sepoi dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin sepoi – sepoi pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup untuk dapat
menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang besar yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat pada kapal atau daerah – daerah pantai (Hutabarat, 2008).
Ukuran besar kecilnya gelombang umumnya ditentukan berdasarkan tinggi gelombang. Tinggi gelombang ini bisa hanya beberapa millimeter saja tetapi juga bisa sampai puluhan meter. Apabila kita mengamati perambatan gelombang di laut, seolah-olah tampak air laut itu bergerak maju beserta dengan gelombangnya. Tetapi kenyataan sebernarnya tidaklah demikian. Pada perambatan gelombang yang bergerak maju sebenarnya adalah bentuknya saja, partikel airnya sendiri hampir tidak bergerak maju (Nontji, 2007).

topH. Topografi dan Sedimen

e.Topografi dan sedimen

Transpor sedimen di laut dalam utamanya berasal dari Continental Shelf (perairan dangkal), meskipun beberapa sedimen dapat diangkut jauh di oceanic ridge dan rise, dan sedimen biogenik yang terakumulasi di dasar laut karena adanya “hujan” atau reruntuhan sisa sisa organisme pelagik dari permukaan dan dekat permukaan perairan. Sedimen halus (berukuran kecil) dapat bergerak ke perairan dalam melintasi continental shelf sebagai “plume permukaan air tawar” atau lapisan nepheloid dekat dasar (Boggs, 1987).    
Proses yang memungkinkan transpor sedimen ke laut dalam menjauhi continental shelf dapat dikelompokkan kedalam 6 bagian yaitu :
1.                  transpor sedimen tersuspensi oleh aliran dekat permukaan dan oleh angin
2.                   transpor lapisan nepheloid dekat dasar
3.                  transpor oleh arus pasang surut pada lembah lautan
4.                   aliran gravity sedimen
5.                  transpor oleh arus kontur geostrophic, dan
6.                  transpor oleh es. Sebagai tambahan, sedimentasi di perairan dalam dapat juga terjadi oleh karena adanya reruntuhan organisme pelagik yang telah mati dari dekat permukaan perairan, adanya partikel hasil letusan gunung berapi yang jatuh ke laut.
Sedimen laut berasal dari daratan  dan hasil aktivitas (proses ) bioligi, fisika dan kimia baik yang terjadi di daratan maupun di laut itu sendiri, maupun ada masukan sedikit dari sumber vulkanogenik dan kosmik. Sedimen laut terdiri atas materi-materi bebagai sumber. Faktor-faktor  yang mempengaruhi tipe sedimen yang terakumulasi antara lain adalah topograsi bawah laut dan pola iklim. Distibusi laut saat ini merupakan refleksi laut dan pola iklim. Tipe sedimen dasar laut berubah terhadap waktu karena perubahan cekungan laut, arus dan iklim. Urutan dan karakteristik  sedimen laut baik struktur maupun tekstur yang tergambar dalam lapisan sedimen menujukan perubahan yangterjadi di atasnya     ( Rifardi et al, 1998).
Sedimen terutama terdiri dari partikel partikel yang berasal dari hasil pembokaran batu batuan dan potongan potongan kulit (shell) serta sisa rangka dari organisme laut, yang di kelompokan berdasarkan sumber pembentukannya : (Hutabarat dan Evans, 1985).
1.                  Sedimen Lithogeneous yaitu Jenis sedimen ini berasal dari sisa pengikisan batu batuan di darat. Hal ini dapat terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim, seperti yang disebabkan oleh karena adanya pemanasan dan pendinginan terhadap batu batuan yang terjadi secara berulang ulang di padang pasir, oleh karena adanya embun embun es di musim dingin, atau oleh karena adanya aksi kimia dari larutan bahan bahan yang terdapat di dalam air hujan atau air tanah terhadap permukaan batu  Partikel-partikel sedimen diangkut dari daratan ke laut oleh sungai-sungai. Beberapa sungai di dunia yang mengalir di daerah daratan yang begitu luas akan memindahkan sejumlkah besar sedimen ke dalam laut. Begitu sedimen mencapai laut penyebarannya kemudian ditentukan terutama oleh sifat-sifat fisik dari partikel-partikel itu sendiri, khususnya oleh lamanya mereka tinggal melayang-layang (tersuspensi) di lapisan kolom air. Partikel-partikel yang berukuran besar cendrung untuk lebih cepat tenggelam (mengendap) dan menetap dibandingkan partikel yang berukuran kecil.
2.                  Sedimen Biogeneous yaitu Sisa rangka dari organisme hidup juga akan membentuk endapan partikel partikel yang halus yang dinamakan ooze yang biasanya mengendap pada daerah daerah yang letaknya jauh dari pantai. Terbagi dua tipe utama: calcareous dan siliceous ooze yang mana tergantung pada jenis organisme dari mana mereka berasal dan jenis bahan yang telah bergabung ke dalam kulit atau rangka organisme.
3.                  Sedimen Hydrogeneous yaitu Jenis partikel dari sedimen golongan ini dibentuk sebagai hasil reaksi kimia dalam air laut. Sebagai contoh manganese nodules (bungkahan bungkahan mangan). Jenis logam logam lain seperti cooper (tembaga), cobalt dan nikel juga tergabung di dalamnya
4.                  Sedimen Cosmogeneous dan Sedimen Volcagenic yaitu Partikel partikel kecil yang berasal dari ruang angkasa dan mengandung banyak unsur besi sehingga mempunyai respon magnetik disebut sedimen cosmogeneous. Sedangkan sedimen volcagenik adalah material yang dkeluarkan oleh gunung api (Hutabarat dan Evans,1985).


  ii. TUJUAN

Adapun tujuan dari praktek lapang Pengantar Oseanografi adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui fluktuasi suhu perairan, salinitas dan tingkat kecerahan di perairan pantai pulau bukori serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
2.      Untuk mengetahui tipe pasang surut dan beda pasut di perairan pantai bukori serata faktor-faktor yang mempengaruhinya
3.      Untuk mengetahui kecepatan dan arah arus di perairan pantai pulau bokori faktor-faktor yang mempengaruhinya
4.      Untuk mengetahui karaktekristik gelombang di perairan pantai pulau bokori faktor-faktor yang mempengaruhinya
5.      Untuk mengetahui bentuk topografi serta hubungannya dengan sedimen di perairan pantai pulau bukori.


 iii. METODE PRAKTEK

III.1. Waktu dan Tempat    

3.1  Waktu dan Tempat

Praktek lapangan pengantar oseanografi dilaksanakan pada hari sabtu, 16  mei 2015 pada pukul 10.00 WITA sampai pada hari minggu, 17  mei 2015 pada pukul 11.00 WITA di pulau Bokori, Desa Bajo Indah Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Sedangkan praktek laboratorium dilaksanakan pada hari juma’at, 29 Mei 2015 pada pukul, 02.00 hingga 17.00. WITA di laboratorium Fakultas Perikanan  dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, Kendari.
III.11. Alat dan Bahan

3.2  Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan praktikum lapang oseanografi serta kegunanya.
NO.
Alat dan Bahan
satuan
Kegunaanya
1.
Alat



-    Thermometer
0c
Untuk mengukur suhu

-   Handrefraktometer
Ppt
Untuk mengukur salinitas

-   Patok berskala                    
Meter
Untuk mengukur kedalaman

-   Secchi disc
Meter
Untuk mengukur kecerahan

-   Selang
Meter
Sebagai alat bantu dalam pengukuran gelombang dan pasut air laut

-   Stopwatch
Detik
Untuk mengukur waktu

-    Layang arus
-
Untuk mengukur kecepatan arus

-   Kompas
-
Untuk mengetahui arah angin

-   Meteran jahit dan mteran rol
Meter
Untuk mengukur jarak dan kedalaman air laut

-   Tali raffia
-
Sebagai alat pengikat bahan dan alat

-   Pipa paralon
-
Alat bantu untuk mengambil sedimen (sampel)




Tabael lanjutan:
E.      
Bahan



-    Aquades dan  tisu
-
Untuk membersihkan hendrefraktormeter

-    Plastik sampel
-
Untuk menyimpan sedimen

-    pH indicator

Untuk untuk mengetahui asam dan basa

-    Alat tulis
-
Untuk menulis

-    Kertas label
-
Untuk menempel sedimen yang sudah di masukan kedalam kertas sampel

III.III   Prosedur pengamatan
Prosedur pengamatan pada praktikum lapangan oseanografi ini adalah sebagai berikut:

a. Suhu

             Adapun prosedur kerja pada pengukuran suhu adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan thermometer untuk melakukan pengukuran suhu.
2.      Melakukan pengukuran suhu dengan cara mencelupkan thermometer ke dalam perairan selama kurang lebih 1-3 menit,  dilakukan 3 kali pengulangan.
3.      Mencatat hasil pengukuran pada kertas yang telah disiapkan.
4.      Melakukan pengambilan sampel dengan interval waktu 1 jam selama 24 jam.

b. Salinitas

Adapun prosedur kerja pada pengukuran salinitas adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan handrefraktormeter untuk melakukan pengukuran salinitas.
2.      Meneteskan aquades 1 tetes pada kaca handrefraktometer kemudian dibersikan dengan tisu, bertujuan untuk menormalkan hendrafraktometer.
3.      Mengambil sampel air laut kemudian meneteskan 1 tetes pada handrefraktometer.
4.      Mengamati dan mencatat hasil yang ditampilkan pada handrefraktometer.
5.      Melakukan pengambilan sampel dengan interval waktu 1 jam selama 24 jam.

c. Kecerahan

            Adapun prosedur kerja pada pengukuran kecerahan adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan secchi dich untuk melakukan pengukuran kecerahan.
2.      Menenggelamkan secchi disch ke dalam perairan sampai warna pada secchi disc tidak kelihatan.
3.      Menarik perlahan-lahan hingga warna pada secchi disch terlihat hitam putihnya.
4.      Menandai batas pada tali secchi disch  yang masuk di perairan , sebelum dan sesudah terlihat warna secchii disch.
5.      Mengukur  panjang tali secchi dicsh yang masuk kedalam peraian.
6.      Mencatat hasil pengukuran.

d.  Pasang Surut

            Adapun prosedur kerja pada pengukuran pasang surut adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan patok berskala dan selang untuk melakukan  pengukuran pasang surut.
2.      Menancapkan patok pada dasar perairan.
3.      Mencatat perubahan tinggi pasang surut pada  patok berskala dengan interval 1 jam selama 24 jam.

e. Arus Laut

          Adapun prosedur kerja pada pengukuran arus laut antara lain sebagai berikut:
1.      Menyiapka layangan arus dengan panjang tali 10 meter untuk melakukan pengukuran arus  laut.
2.      Meletakan layangan arus di atas permukaan air bersamaan dengan hitungan stopwatch, serta mengaktifkan kompas.
3.      Mencatat  waktu bila tali telah dalam keadaan renggang sempurna.
4.      Kecepatan arus dihitung dengan  menggunakan rumus:  v = S/t.
5.      Mencatat hasil pengamatan.

f. Gelombang Laut

          Adapun prosedur kerja pada pengukuran gelombang  laut antara lain sebagai berikut:
1.      Menyiapkan peralatan berupa patok berskala,  meter rool,stopwatch untuk melakukan pengukuran panjang , tinngi, dan periode gelombang laut.
2.      Untuk mengukur panjang gelombang gunakan patok untuk mengukur jarak antara dua puncak gelombang, yang berdekatan kemudian mencatat hasilnya.
3.      Untuk mengukur tinggi gelombang, menancapkan patok ke dasar perairan kemudian menghitung tinggi gelombang dengan menandai pada patok jarak antara puncak dan lembah gelombang dn mencatat hasilnya.
4.      Untuk mengukur periode gelombang, seperti langkah (3) memulai hitungan stopwatch setelah mendapatkan puncak gelombang berikutnya. Kemudian mencatat hasilnya.

h. Topografi dan Sedimen

Adapun prosedur pengamatan untuk topografi yakni:
v  Untuk topografi
1.      Menyiapkan peralatan berupa patok berskala, rool meter.
2.      Menancapkan patok pada ke dalaman 25 cm dan mengukur jaraknya dari garis
3.      pantai,lakukan sampai kedalaman 150 cm
4.      Mengambil substrat dengan kedalaman 50,100,dan 150 cm
5.      Mencatat hasil yang diperoleh
v  Untuk sedimen
Setelah mengambil sampel, substrat dibawa ke laboratorium untuk mengamati teksturnya:
Adapun prosedur pengamatan untuk sedimen yaitu:
1.      Menyiapkan substrat yang telah di peroleh dari pantai bokori
2.      Menimbang berat substrat untuk masing-masing substrat berdasarkan kedalaman
3.      Catat data yang diperoleh
4.      Menyaring substrat satu persatu kedalam saringan bertingkat (sieve shaker)
5.      Saring selama 5 menit untuk masing-masing substrat yang diperoleh  berdasarkan kedalaman
6.      masukkan dalam kotak yang telah disediakan sebelumnya sesuai dengan ukuran substrat yang di saring
7.      Timbang satu persatu hasil saringan substrat tersebut
8.      Mencatat hasil yang diperoleh























iv. hasil dan pembahasan

 IV.I. Gambaran Umum Lokasi

 

 

 Hasil dan pembahasan

 


 

iv. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 GAMBARAN UMUM LOKASI


Pulau Bukori terletak di Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Terletak di garis 030 56’ LS 1220 39’ 50.
Perjalanan menuju Pulau Bukori dari dermaga Bajo indah membutuhkan waktu tempuh 5-7 menit, sebelumnya pulau bukori merupakan pemukiman warga desa bukori. Kondisi pulau yang kecil, dataran rendah, tidak adanya sumber air tawar, dan tidak adanya fasilitas kesehatan dan infrakstruktur lainnya, permukaan air laut yang semakin tinggi dan resiko bencana yang membahayakan masyarakat Bukori. Hal ini, mengakibatkan pemerintah mengefakuasi masyarak ke daerah yang lebih aman, dari situlah sampai sekarang Pulau Bukori menjadi pulau tak berpenghenu dan hanya di jadikan tempat rekreasi masyaraat setampat di waktu-waktu senggang serta dijadikan temapat observasi mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
IV.II. Hasil pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum lapang pengantar oseanografi yang  dilakukan di pulau bokori dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
1.   Suhu
Tabel 2. Hasil Pengukuran Variasi Suhu di Perairan Pantai P.Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015
Jam (Wita )
Suhu (°C)
Jam ( Wita)
Suhu (°C)
10.00
30
22.00
30
11.00
31
23.00
30
12.00
31
24.00
30
13.00
32
01.00




Tabel Lanjutan

Jam ( Wita)
Suhu (°C)
Jam ( Wita)
Suhu (°C)
14.00
32,5
02.00
28
15.00
30
03.00
27
16.00
32
04.00
29
17.00

05.00
29
18.00
30
06.00
29
19.00
30
07.00
30
20.00
30
08.00
30
21.00
29
09.00
31

2.      Salinitas
Tabel 3. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai P. Bokori
Jam (Wita )
Salinitas ( %)
Jam (Wita )
Salinitas (%)
10.00
30
22.00
31
11.00
30
23.00
31
12.00
32
24.00
32
13.00
32
01.00
32
14.00
32
02.00
31
15.00
30
03.00
32
16.00
31
04.00
32
17.00
31
05.00
31
18.00
32
06.00
30
19.00
32
07.00
31
20.00
32
08.00
32
21.00
30
09.00
32






3.         Pasang Surut
Tabel 4. Hasil Pengukuran Tinggi Permukaan Air di Perairan Pantai P. Bokori
Jam (Wita )
Tinggi (Cm)
Jam ( Wita )
Tinngi ( Cm)
10.00
219
22.00
150
11.00
215
23.00
197
12.00
191
24.00
206
13.00
191
01.00
220
14.00
160
02.00
256
15.00                                 
116
03.00
120
16.00
83
04.00
125
17.00
62
05.00
126
18.00
61
06.00
130
19.00
72
07.00
117
Table lanjutan
Jam (Wita )
Tinggi (Cm)
Jam ( Wita )
Tinngi ( Cm)
20.00
128
08.00
137
21.00
140
09.00
202






4.      Sedimen
Tabel 5. Hasil Pengamatan Tekstur Sedimen Berdasarkan Kedalaman di perairan pantai P.Bokori Jam 08.00 Tanggal 17 Mei 2015
Kelompok
Kedalam(cm)

Jenis Substrat
Kerikil ( %)
Kerikil kecil (%)
Pasir halus
1
50
4.2 %
19.8 %
71.0 %
100
3.3 %
18.9 %
76.8 %
II
50
 6.1 %
28.5 %
65.4 %
100
2.9 %
22.9 %
74.2 %
III
50
     -
-
-
100
     -
-
-
IV
50
6.1   %
28.5 %
65.3 %
100
2 .9 %
22.9 %
74.2 %
V
50
7.7  %
13.7 %
78.7%
100
4.4  %
15.1 %
80.5 %
VI
50
7.7  %
13.6   %
78.7 %
100
4.8  %
15.3  %
80.3 %
VII
50
7.7 %
13.7 %
78.7 %
100
4.8  %
16.5  %
78.7 %
VIII
50
4.2  %
20.6 %
75.2 %
100
7.3  %
3.4  %
89.3 %
IX
50
7.7 %
13.7 %
78.7 %
100
4.8 %
16.5 %
 78.7 %

5.         Arus
Tabel 6. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai P.Bokori Pukul 14.00 Wita Tanggal 16 Mei 2015.
Stasiun
Kecepatan Arus ( m/det)
Arah Arus
Arah Angin
Dasar Perairan
I
0.057
Barat laut
Barat laut
Pasir, landai
II
0.18
-
-
Pasir, landai
III
0.16
-
-
Pasir, curam
IV
-
Barat timur
Barat
Pasir, curam
V
0.015
Timur
Selatan
Pasir, curam
VI
0.490
Barat laut
Barat
Pasir, landai
VII
0.021
Barat
Barat laut
Pasir, landai
Tabel lanjutan
Stasiun
Kecepatan Arus ( m/det)
Arah Arus
Arah Angin
Dasar Perairan
VIII
0.0211
Barat
Barat
Pasir, landai
IX
0.2
Barat
Barat
Pasir,l andai
Ket: Pukul 14.00 : air laut bergerak surut (arus surut)
Tabel 2. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai P.Bokori
Pukul 07.00 Wita Tanggal 17 Mei 2015.
Stasuin
Kecepatan Arus (m/det)
Arah Arus
Arah Angin
Dasar Perairan
I
0.032
Tenggara
-
Pasir, landai
II
0.167
-
-
Pasir, landai
III
0.118
-
-
Pasir, curam
IV
-
Selatan
Timur
Pasir, curam
V
1.793
Barat
Barat
Pasir, landai
VI
0.009
Timur laut
Timur
Pasir, landai
VII
0.0065
Timur
Timur laut
Pasir, landai
VIII
0.062
Timmur
Timur
Pasir, landai
IX
0.004
Selatan
Barat
Pasir, landai
Ket: Pukul 07.00 : air laut bergerak menuju pasang (arus pasang)
6.      Gelombang
Tabel 7. Hasil Pengukuran Panjang Tinggi dan Periode Gelom bang di Perairan Pantai P.Bokori Pukul 08.00 Wita Tanggal 17 Mei 2015.
Stasiun
Niai
Arah
Dasar perairan
Panjang (cm)
Tinggi (cm)
Periode (s)
Angin
Gelombang

I
89
6
-
-
-
Pasir, landai
II
83
7
1,9
Timur laut
Utara
Pasir, landai
III
1.1
4
-
-
-
Pasir, curam
IV
69.7
10.1
1
Timur laut
Utara
Pasir, curam
V
82.3
18.7
1.65`
Timur laut
Timur laut
Pasir, landai
VI
9.92
14
3.13
Timur laut
Timur laut
Pasir, landai
VII
52.13
3.7
1.1
Timur laut
Timur laut
Pasir, landai
VIII
11.09
28
6.05
Barat
Selatan
Pasir, landai
IX
6.025
15.25
2.04
Barat
selatan
Pasir, landai
7.      Topografi dan sedimen
Tabel 8. Hasil Pengukuran Jarak dari Garis Pantai Berdasarkan Kedalaman di perairan pantai P.Bokori Jam 08.00 Tanggal 17 Mei 2015
Stasiun
Jarak Dari Garis Pantai ( m) & Jenis Substrat Dasar Perairan

Ked.25 cm
Ked. 50 cm
Ked. 75 cm
Ked.100 cm
Ked.125 cm
Ked.150 cm

I
-
-
-
-
-
-

II
-
-
-
-
-
-

III
-
--
-
-
-
-

IV
3.44
10.91
14.90
17.88
32.86
50.00

V
1.45
1.9
3.37
5.07
9
38.37

Tabel lanjutan

Stasiun
Jarak Dari Garis Pantai ( m) & Jenis Substrat Dasar Perairan

Ked.25 cm
Ked. 50 cm
Ked. 75 cm
Ked.100 cm
Ked.125 cm
Ked.150 cm

VI
2
6.036

 12.10

20.16
30
41.056
VII
1.85
3.83
5.80
8.20
22.30
94.98

VIII
1.55
3.15
5.10
6.65
15.85
53.85

IX
2.27
4.02
5.88
7.76
19.88
43.83



















8.      pH
Tabel 9. Hasil Pengukuran pH di Perairan Pantai P. Bokori
Stasiun
Jam (WITA)
Ph
I
22.00
7
II
18.00
7
III
17.00
7
IV
21.00
7
V
19.00
7
VI
18.00
7
VII
16.00
7
VIII
23.00
8
IX
19.00
8

IV.I. Pembahasan

IV.I.I. Suhu, Salitas dan kecerahan

4.2.1IV.1.I.  Suhu

Kemampuan daratan dalam menyimpan panas berbeda dengan air. Daratan akan lebih cepat bereaksi untuk menjadi panas ketika menerima radiasi dari pada lautan.
Sebaliknya daratan akan lebih cepat pula menjadi dingin dari pada lautan pada waktu tidak ada insolation. Akibatnya di daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar bila dibandingkan dengan yang terjadi di lautan. Kisaran suhu di lautan: -1,87 0C s/d 42 0C. Sementara di daratan: -68 0C s/d 58 0C (Hutabarat dan Evans, 1985).
Gambar 2. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai Pulau Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015

4.1.HASIL

 

Berdasarkan Hasil pengukuran fariasi suhu di perairan pantai pulau Bokori   di lakukan 2 kali pengukuran yaitu pada tanggal 16 dan 17 mei  20145 pada pukul 11.00 dan 12.00  di manah pengukuran suhu di lakukan pada stasiun masing-masing. Pada tanggal 16 mei pukul 11.00 di peroleh suhu  tertinggi pada stasiun I yaitu 300C dan salinitas tertinggih yaitu di temukan pada stasiun II . 32 Ppt, sedangkan pengukuran yang di lakukan pada tanggal 17  mei pada pukul 05.00 di peroleh salinitas terendah pada stasiun III yaitu 300C dan Kecerahan terendahnya terdapat pada stasiun I V.5,40. Hasil Pengukuran yang di lakukan pada tanggal 16 dan 17 ini mempunyai hasil yang berbeda-beda hal ini di sebabkan karena pada saat pengukuran tiap-tiap stasium melakukan pengukuran ditempat yng berbeda-beda dimana tekan dan suhu akibat penyinaran matahari berbeda-beda.

IV.II.II.  Salinitas

            Air laut merupakan perairan yang memiliki rasa asin di bandingkan dengan periran yang  lainnya, rasa asin pada air laut di sebapkan beragamnya kandungan garam-garam terlarut seperti garam natrium klorida (NaCl), selain itu,air laut merupakan perairan terbesar yang memisahkan benua dan pulau yang ada di berbagai belahan dunia, hal ini menjadi sumber utama adanya kandungan garam baik yang bersumber dari pelapukan yang bersumber dari daratan, ataupun pelapukan yang bersumber dari organisme atau pun batuan yang ada didasar perairan laut
Gambar 3. Grafik fariasi salinitas di perairan pantai pulau Bukori selama 24 jam tanggal 16-17 Mei 2015.

Pengukuran salinitas yang di lakukan pada perairan pulau Bukori selama 24 jam  memperoleh kadar salinitas yang sangant baik untuk ekosistem perairan yang berkisar antara 31 o/oo-32 o/oo.
 Kadar slinitas yang baik disepakan kurangnya pengaruh dari ekosistem daratan seperti aliran sungai, semakin banyak sungai dan curah yang bermura ke laut maka semakin rendah salinitas pada peraira. Tidak hanya itu, faktor cuaca yang mendukung pada saat melakukan pengukuran mengkibatkan kadar salinitas yang di teliti sangat baik.
Kadar salinitas suat perairan pesisisir dapat saja berubah sewaktu-waktu apabila kondisi lingkungan pada wilaya perairan tersebut menbawa dampak bagi perairan tersebut, perubahan cuaca seperti pada musim hujan, semakin besar curah hujan di suatu perairan maka salinitas akan rendah begitupun sebaliknya.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan (turbulensi) di lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen yang bergantung intensitas pengadukan. Pada  perairan dangkal, lapisan lapisan yang di hasilkan akibat dari turbelensi hampir sama dengan lapisan di dasar perairan.

IV.II.III.  kecerahan

presentase kecarahan pada lokasi pengukuran hampir mendekati 100%. Pada kedalam 8-10 M. Pada kedalaman 50-100 M tingkat cerahan hanya 8,16 m. Hal ini di akibatkan pada suatu terdapat zat-zat atau molekul-molekul serta kepadatan plankton, yang terlarut, tersuensi (mengendap), dan melayang-layang pada kolom air.
Kecerahan suatu perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman pada proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggang seichi disk mencapai 20-40 dari permukaan ( Syukur, 2002 ).

4.3.pasang surut4444IV.II.IV. Pasang Surut

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).




 







Gambar 1. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai P.Bokori Tanggal 16-17 Mei 2015.

Pasang surut yang terjadi pada Pulau Bukori di mana usia bulan saat pengamatan 3-4 hari bulan (tanggal 28-29 Rajap 1436 H) distasiun maing-masing menghasilkan kebergaman. Hal ini diakibatkan perbedaan  topogafi dasar laut seperti, panjang garis pantai, kelandayan serta yang paling mendasar adalah aktifitas benda-benda luar angkasa (matahari, bulan, bumi).

ArusIV.II.V. Arus

Arus di permukaan laut sanggat di pengaruhi oleh angin. Terjadinya angin pada suatu perairan di sebapkan karena adanya perbedaan tekanan udara yg merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berbeda di permukaan bumi, slain itu, saat angin berhembus di laut, energi yang ditransfer dari angin ke batas permukaan, sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan, yang memberikan pergerakan air dari yang kecil kearah perambatan gelombang sehingga terbentuklah arus dilaut, diman semaakin kuat anggin bertup semakin besar pula arus yang trjadi pada perairan, begitupun sebaliknya.

4.4.

Pengukuran arus di perairan pulau Bukori pada siang hari cukup beragam tiap stasiunnya selam 24 jam.ditemukan pada stasiun I 0,16 m/s,sedangkan pada stasiun II. 0,118 m/s.  Pengukran yang di mulai pada siang hari tiap stasiun memperoleh varian kecepatan arus yang berbeda-beda  hal ini diakibatkan pengukuran arus laut di lakukan pada wilayah pesisir yang memiliki topografi yang landai, dangkal, tidak adanya penghalang saat angin bertiup sehingga mengghasilkan variasi kecepatan yang beragam.
Dangkalnya perairan saat melakukan pengukuran kecepatan arus menga
arus laut permukaan merupakan pencerminan langsung dari pola angina yang bertiup pada waktu itu.
Air dilapisan bawahnya ikut terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari arah angina dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi dari arah arus permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009).

4.4

IV.II.VI.  Gelombang

Pengukuran gelombang di lakukan selama satu kali pada pukul 09.00  WITA. Gelombang yang terjadi pada lokasi pengukuran yang di mulai pada pukul 19.00 WITA. Kondisi perairan saat itu mulai bergerak surut sehingga periode gelombang bervariasi tiap-tiap satsiun. Pada stasiun III panjang gelombang 1,1 m, tinggi gelombang 4 cm dengan periode 4,5 menit, pada saat pengamatan gelombang yang ditemukan adalah gelombang landai, hal ini diakibantkan pengaruh angin yang cukup kencang saat melakukan pengukuran, bentuk topografi pantai yang landai.           

.

. gelomb

Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit arus dan juga pembangkit utama gelombang. Ada dua istilah untuk menggambarkan gelombang di laut yaitu "Sea wave" dan "Swell". Sea wave merupakan gelombang laut yang masih berada di dalam pengaruh angin dan bentuknya sangat tidak teratur sedangkan swell adalah gelombang yang lebih panjang dari sea wave dan sudah keluar dari pengaruh angin serta bentuknya sudahteratur. Swell dibentuk oleh gelombang-gelombang frekuensi atau panjang gelombangnya hampir sama.
Sifat-sifat gelombang dipengaruhi oleh faktor angin dan sedikitnya ada tiga faktor angin yang sangat berpengaruh yaitu :
1.    Kecepatan angin. Umumnya makin kencang angin yang bertiup, makin   besar gelombang yang terbentuk dan gelombang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang besar.
2.      Lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya cenderung untuk meningkat sesuai dengan lamanya angin bertiup.
3.      Jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch). Pentingnya fetch dapat digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif kecil seperti danau di daratan dengan yang terbentuk di lautan bebas. Gelombang yang terbentuk di danau dimana fetchnya kecil biasanya mempunyai panjang gelombang hanya beberapa sentimeter, sedangkan yang di lautan bebas dimana fetchnya lebih besar, sering mempunyai panjang gelombang sampai beberapa ratus.
Gelombang laut pada umumnya timbul oleh pengaruh angin, walaupun masih ada faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan gelombang di laut seperti aktifitas seismik di dasar laut (gempa), letusan gunung api, gerakan kapal, gaya tarik benda angkasa (bulan dan matahari) (NINING, 2002).     

IV.II.VII.  Topografi dan Sedimen4.5.

Pengukuran topografi di mulai pada pukul 08.00 WITA berdasarkan stasiun yang berbeda-beda.  pengukuran di mulai dari garis pantai sampai dengan jarak  25 M, 50 M, 70 M, 100 M, 125 M,dan kedalaman 150 M. Dengan enam varian jarak pada lokasi pengukuran memperoleh haisil kedalamandan jenis substrat yang berbeda-beda (lihat di lampiran).
Dari hasil pengukuran tersebut dapat di ketahui bentuk perairan pulau Bukori memiliki bentuk topograi yang landai.4.5. topografi  sedimen
Topografi dan letak geografis pantai juga berpengaruh terhadap besarnya ombak yang dapat berdampak terhadap banyak atau tidaknya erosi dan pengikisan pantai, dan pada akhirnya hasil dari pengikisan pada pantai juga akan berdampak balik terhadap kondisi topografi pantai, sehingga pada dasarnya antara keadaan topografi, ombak (gelombang), letak geografis saling berkaitan membentuk sebuah siklus yang selalu berkelanjutan. (Scripto,2008).
Sedimentasi pada lokasi pengukuran berdasarkan hasil pengambilan sampel dari tiga varian kedalam yang di lakukan saat penentuan topografi perairan menghasilkan substrat yang berbeda-beda (lihat pada lampiran).
Keberagaman sedimen yang di peroleh dari pengambilan sampel, selain pengaruh lokasi yang berbeda-beda setiap stasiun, faktor lain seperti tidak adanya aktifitas masyarakat di sekitaran lokasi, pengendapan dan pelapuakn yang bersumber dari organisme bantuan dan dan sungai yang bermuara ke laut.
Lokasi pengambilan sampel yang landai dan tidak adanya muara, serta kurang bebetuan di sekitar garis pantai dan di dasar mengakibatkan jenis sedimen yang di peroleh bedasarkan uji laboratorium menghasilkan tiga varian substrat yaitu kerikil, kerikil kecil, dan pasir halus (data pada halam sampul).




v. kesimpulan

5.1. Kesimpulan
Simpulan yang di peroleh dari praktek lapang oseanografi, tanggal 3-4 Mei selam 24 jam di Pulau Bokori yaitu :
1.      Berdasarkan praktikum oseanografi tentang pengukuran parameter fisika dan parameter kimia. Pada parameter fisika meliputi kecepatan arus, kecerahan dan sifat optis air, suhu, pasang surut, dan gelombang. Sedangkan pada parameter kimia meliputi PH, salinitas yang telah dilaksanakan, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
2.      Suhu air laut tidak mudah panas dan tidak mudah dingin. Pada kedalaman tertentu suhu air bersifat homogen.
3.      Arus permukaan dipengaruhi oleh angin. Semakin kencang angin maka arus semakin kuat, sedangkan arus di kedalaman disebabkan perbedaan densitas.
4.      Tingkat kecerahan dipengaruhi oleh: zat terlarut di air, endapan, kedalaman dasar laut dan mikroorganisme yang hidup di lautan.
5.      Gelombang merupakan pergerakan massa air secara horizontal di perairan yang disebabkan angin dan peristiwa pasang surut.
6.      Pasang surut dipengaruhi oleh gaya grafitasi benda langit, yang paling mempengaruhi adalah bulan kemudian matahari.
7.      Derajat keasaman merupakan salah satu parameter penentu produktivitas suatu perairan.
8.      Salinitas dapat berkurang diakhibatkan oleh bercampurnya air tawar dan air laut dan melelehnya es dan salju.
5.2.   SARAN
Dalam melakukan pratikum yang akan datang sebaiknya dalam setiap pengukuran-pengukuran asisten dosen yang bersangkutan harus ikut serta dalam pelaksanaan pratikum. Sebaiknya Laboratorium menyediakan alat dan bahan yang cukup untuk digunakan.





DAFTAR PUSTAKA

Ariffin. 2003. Dasar klimatologi. Unit penerbitan fakultas pertanian universitas brawijaya; Malang.

Annisa. 2008. Annisa.blogspot.com/salinitas.

Boggs, s. 1987. Principles of sedimentology and stratigraphy. Merrill    publishing. Company. Ohio, usa.

Hutabarat, s. Dan s.m, evans. 1985. Pengantar oseabografi. Universitas indonesia press., jakarta.

Duxbury, a; b. Alyn; c. Duxbury and k.a. Sverdrup 2002. Fundamentals of oceanography-4th ed, mcgraw-hill publishing, new york.

Hutabarat & evans.1985. Pengantar oseanografi. Penerbit universitas indonesia

(ui press) ; jakarta.

Kurniawan, roni., m. Najib habibie dan suratno. 2011. Variasi bulanan          gelombang laut di indonesia. Jurnal meteorologi dan geofisika, vol.12, no.3. Desember 2011: 221-232. Jakarta.

Nining, s. N. 2002. Oseanografi fisis. Kumpulan transparansi kuliah oseanografi fisika, program studi oseanografi, ITB.

Nontji, anugerah.2007. Laut nusantara. Penerbit djambatan ; jakarta.

Poerbandono dan e. Djunasjah, 2005. Survei hidrografi. Pt. Refika aditama.

Bandung.Poerbandono (2003). Sediment transport measurements and modelling in the meldorf bight tidal channels, german 8orth sea coast. Dissertation. University of kiel, germany.

Romimohtarto, kasijan dan sri juwana. 2009.  Biologi laut. Jakarta: djambatan.

Wibisono.2011. Pengantar ilmu kelautan . Penerbit universitas indonesia (uipress) jakarta.

Romimohtarto, kasijan. 2009. Biologi laut. Penerbit djambatan ; jakarta.

Poerbandono dan e. Djunasjah, 2005. Survei hidrografi. Pt. Refika aditama. Bandung.

Supangat, A dan Susanna. 2008. Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya
Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk Uwai. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 51 hal. ( tidak di terbitkan).
Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan. Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanography of the South East Asian Waters. NagaWardani,
Wahyu.2008.Oseanography.Program Geografi UNM.Malang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar